Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Gejolak ekonomi global mulai merambat ke perekonomian Indonesia melalui tiga jalur utama, yakni sektor finansial, komoditas, serta perdagangan. Bank Indonesia (BI) menilai kondisi ini perlu diwaspadai karena dapat mempengaruhi stabilitas pasar keuangan hingga aktivitas ekonomi domestik.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan, tekanan global tersebut menjadi alasan penting bagi bank sentral bersama pemerintah untuk memperkuat intermediasi pembiayaan agar momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Destry menjelaskan, jalur pertama datang dari sektor finansial. Ketidakpastian global mendorong investor melakukan flight to quality atau perpindahan dana ke aset aman (safe haven). Kondisi ini tercermin dari penguatan indeks dolar AS (DXY) serta kenaikan imbal hasil obligasi di negara maju.
Pada akhirnya, situasi tersebut mendorong arus keluar modal (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Di sektor finansial kita pasti akan terkena, bukan hanya Indonesia. Karena terjadi safe haven quality, DXY naik, imbal hasil obligasi AS meningkat, sehingga mendorong capital outflow ke emerging market,” ujarnya dalam agenda Kick Off PINISI di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (27/4/2026).
Jalur kedua berasal dari sektor komoditas, khususnya energi. Destry menyoroti meningkatnya ketegangan global yang berdampak pada lonjakan harga minyak dan komoditas lain.
Baca Juga: Kominfo: YouTube Sudah Patuh PP Tunas, Roblox Masih Belum
Ia mencontohkan, meskipun jalur distribusi minyak global seperti Selat Hormuz hanya berkontribusi sekitar 20%, gangguan yang terjadi tetap menimbulkan dampak besar terhadap pergerakan harga komoditas dunia.
“Ujung-ujungnya adalah minyak. Dampaknya meluas sehingga meningkatkan harga bukan hanya minyak, tapi juga komoditas lainnya,” jelasnya.
Menurut Destry, kenaikan harga energi juga mempengaruhi harga komoditas lain seperti emas dan batu bara, sehingga dapat menambah tekanan pada inflasi serta biaya produksi di berbagai sektor.
Sementara jalur ketiga berasal dari perdagangan global. Hambatan dalam transportasi dan logistik internasional dinilai mengganggu rantai pasok (supply disruption), sehingga aktivitas perdagangan antarnegara ikut tertekan.
“Adanya hambatan transportasi dan logistik tentu mengganggu perdagangan global, dan ini akhirnya mempengaruhi ekonomi domestik,” imbuh Destry.
Meski menghadapi tekanan tersebut, Destry menilai kondisi ekonomi Indonesia masih relatif terjaga. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 diperkirakan tetap berada di kisaran 5,4%.
Namun, ia menekankan bahwa capaian tersebut tidak boleh membuat pemerintah maupun otoritas lengah.
Menurut Destry, struktur ekonomi Indonesia masih sangat ditopang oleh permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar 54% terhadap produk domestik bruto (PDB), investasi sekitar 30%, dan belanja pemerintah ikut memperkuat porsi ekonomi domestik hingga mendekati 90%.
Tonton: Rp 1 Triliun Digelontorkan! Daerah Berprestasi Dapat Hadiah Besar
“Ekonomi Indonesia itu domestic oriented. Oleh karena itu kita harus memperkuat dari dalam, baik dari sisi permintaan maupun penawaran,” katanya.
Dalam konteks memperkuat ketahanan domestik tersebut, Bank Indonesia bersama pemerintah mendorong percepatan intermediasi pembiayaan melalui program Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI).
Program ini diharapkan mampu mengakselerasi penyaluran pembiayaan ke sektor produktif, sehingga pertumbuhan ekonomi tetap optimal di tengah ketidakpastian global.
Destry menegaskan, penguatan sisi permintaan (*demand side*) dan penawaran (*supply side*) menjadi kunci agar ekonomi Indonesia dapat tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan meski tekanan global masih tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News











