kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.765.000   -24.000   -0,86%
  • USD/IDR 17.676   -60,00   -0,34%
  • IDX 6.319   -52,18   -0,82%
  • KOMPAS100 832   -10,94   -1,30%
  • LQ45 631   -4,14   -0,65%
  • ISSI 225   -2,77   -1,22%
  • IDX30 360   -1,39   -0,38%
  • IDXHIDIV20 449   1,48   0,33%
  • IDX80 96   -1,08   -1,12%
  • IDXV30 124   -0,84   -0,68%
  • IDXQ30 118   0,53   0,46%
AKTUAL /

BI Rate 5,25% Jadi Senjata Stabilkan Rupiah, Ekonom Ingatkan Risiko Ini


Kamis, 21 Mei 2026 / 04:22 WIB
BI Rate 5,25% Jadi Senjata Stabilkan Rupiah, Ekonom Ingatkan Risiko Ini
ILUSTRASI. Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25% dinilai masih aman bagi stabilitas sistem keuangan nasional. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25% dinilai masih aman bagi stabilitas sistem keuangan nasional. Meski begitu, kebijakan moneter yang lebih ketat tersebut berpotensi memperlambat pertumbuhan kredit dan meningkatkan biaya dana perbankan.

Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai sektor keuangan domestik saat ini masih memiliki daya tahan yang cukup kuat untuk menghadapi pengetatan moneter. Hal itu ditopang kondisi perbankan yang relatif solid.

“Permodalan perbankan masih tebal dengan CAR di atas 25%, sementara rasio kredit bermasalah juga tetap rendah. Jadi dari sisi stabilitas sistem keuangan, kebijakan suku bunga tinggi untuk sementara waktu masih relatif aman dipertahankan,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (20/5/2026).

Meski demikian, Yusuf mengingatkan kebijakan suku bunga tinggi tidak ideal dipertahankan terlalu lama, terutama apabila tekanan eksternal mulai mereda.

Menurutnya, langkah BI menaikkan BI Rate juga tepat dari sisi momentum. Pasalnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini lebih banyak dipicu faktor eksternal, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS), tingginya imbal hasil US Treasury, hingga lonjakan harga minyak akibat tensi geopolitik global.

Dalam kondisi tersebut, menjaga kredibilitas kebijakan moneter dinilai menjadi faktor penting untuk mempertahankan kepercayaan pasar.

Baca Juga: Purbaya Tegaskan Subsidi BBM Tak Terlalu Terpengaruh Rupiah, Ini Biang Kerok Utamanya

“Pasar langsung memberi respons positif. Setelah pengumuman kenaikan suku bunga, rupiah sempat menguat dari kisaran Rp 17.700 per dolar AS ke sekitar Rp 17.605, yang menunjukkan pasar melihat BI lebih tegas dan tidak lagi tertinggal dari kurva,” katanya.

Namun Yusuf menilai kenaikan BI Rate saja belum cukup kuat menjadi penopang utama rupiah. Efektivitas kebijakan tetap sangat bergantung pada konsistensi bauran kebijakan moneter secara keseluruhan.

Ia menilai BI masih perlu melanjutkan intervensi di pasar valas, menjaga likuiditas, serta mempertahankan daya tarik instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) agar aliran modal asing tetap masuk ke pasar domestik.

“Efektivitasnya akan sangat ditentukan oleh konsistensi seluruh bauran kebijakan, bukan hanya oleh besarnya kenaikan suku bunga itu sendiri,” jelasnya.

Di sisi lain, Yusuf memperkirakan dampak kenaikan suku bunga terhadap penyaluran kredit belum akan terasa dalam waktu dekat. Hal ini karena transmisi bunga kredit di Indonesia cenderung berlangsung lambat.

Ia mencontohkan, saat BI memangkas suku bunga cukup agresif sepanjang 2025, penurunan bunga kredit perbankan juga berlangsung terbatas. Karena itu, dampak kenaikan BI Rate saat ini diperkirakan baru akan lebih terasa dalam dua hingga tiga kuartal ke depan.

Tonton: Mulai Juni 2026, Prabowo Wajibkan Ekspor SDA Lewat BUMN yang Ditunjuk Pemerintah

Selain itu, dampak kenaikan suku bunga diperkirakan tidak akan merata di industri perbankan. Bank-bank besar dengan dana murah atau current account saving account (CASA) yang kuat dinilai lebih tahan menghadapi kenaikan biaya dana.

Sebaliknya, bank menengah dan kecil yang masih bergantung pada deposito berbunga tinggi diperkirakan akan lebih cepat menaikkan bunga kredit demi menjaga margin keuntungan.

“Tekanan terbesar justru akan lebih cepat dirasakan nasabah bank dengan struktur pendanaan yang kurang efisien,” pungkas Yusuf.

Tabel: Dampak Kenaikan BI Rate 5,25%

Aspek Dampak
Stabilitas Sistem Keuangan Masih relatif aman
Permodalan Bank (CAR) Tetap kuat di atas 25%
Kredit Bermasalah (NPL) Masih rendah
Nilai Tukar Rupiah Sempat menguat ke Rp 17.605/US$
Pertumbuhan Kredit Berpotensi melambat
Biaya Dana Perbankan Cenderung meningkat
Bank Besar Lebih tahan karena CASA kuat
Bank Menengah & Kecil Lebih rentan tekanan biaya dana
Dampak ke Bunga Kredit Diperkirakan terasa 2–3 kuartal lagi
Faktor Tekanan Rupiah Dolar AS kuat, yield US Treasury tinggi, harga minyak naik

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

×