kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.772.000   35.000   1,28%
  • USD/IDR 16.957   -16,00   -0,09%
  • IDX 9.010   -124,37   -1,36%
  • KOMPAS100 1.238   -17,33   -1,38%
  • LQ45 871   -12,96   -1,47%
  • ISSI 330   -4,30   -1,29%
  • IDX30 446   -8,42   -1,86%
  • IDXHIDIV20 522   -16,69   -3,10%
  • IDX80 137   -2,04   -1,46%
  • IDXV30 144   -4,36   -2,93%
  • IDXQ30 142   -3,40   -2,34%
AKTUAL /

Ekonomi RI: Pelemahan Rupiah Berlanjut, Apa Kata Bank Indonesia?


Kamis, 22 Januari 2026 / 02:30 WIB
Ekonomi RI: Pelemahan Rupiah Berlanjut, Apa Kata Bank Indonesia?
ILUSTRASI. Terungkap! Rupiah sempat anjlok ke Rp 16.967 per dolar AS. Simak penjelasan lengkap Gubernur BI tentang penyebab di balik rekor terburuk ini. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)

Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo membeberkan sejumlah faktor global dan domestik yang menyebabkan nilai tukar rupiah melemah hingga menembus level terlemah sepanjang masa pada Januari 2026.

Berdasarkan data pasar spot, nilai tukar rupiah masih berada dalam tren pelemahan. Pada perdagangan Rabu (21/1/2026) hingga tengah hari, rupiah tercatat di level Rp 16.967 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,07% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 16.956 per dolar AS.

Meski demikian, rupiah sempat menunjukkan perbaikan di akhir perdagangan. Rupiah ditutup di level Rp 16.936 per dolar AS pada Rabu (21/1/2026), menguat 0,12% dari sehari sebelumnya, seiring keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuannya. Namun secara bulanan, rupiah spot masih tercatat melemah 0,94%.

Perry menjelaskan, pelemahan rupiah tidak terlepas dari tekanan eksternal yang cukup kuat. Faktor global tersebut meliputi meningkatnya ketidakpastian geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat, serta tingginya imbal hasil US Treasury, baik tenor dua tahun maupun tiga tahun.

“Di samping itu, kondisi global tersebut mendorong penguatan dolar AS dan memicu aliran modal keluar dari negara berkembang ke negara maju, termasuk Amerika Serikat,” ujar Perry dalam konferensi pers, Rabu (21/1/2026).

Baca Juga: Kekuatan Angkatan Laut Dunia 2026: AS Nomor 1, Indonesia Masuk 5 Besar!

Sejalan dengan kondisi tersebut, sepanjang awal 2026 tercatat terjadi arus modal keluar bersih (net outflow) sebesar US$ 1,6 miliar hingga 19 Januari 2026.

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh tingginya kebutuhan valuta asing dari sejumlah korporasi besar, seperti Pertamina, PLN, serta Danantara. Kebutuhan impor dan pembayaran kewajiban valas korporasi turut memperbesar permintaan dolar di pasar domestik.

Selain itu, persepsi pasar terhadap kondisi fiskal nasional serta proses pencalonan Deputi Gubernur Bank Indonesia juga sempat memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.

Meski begitu, Perry menegaskan bahwa proses pencalonan pejabat BI dilakukan sesuai undang-undang dan prinsip tata kelola yang baik, sehingga tidak mempengaruhi independensi maupun pelaksanaan tugas Bank Indonesia.

“Kami tegaskan bahwa proses pencalonan dilakukan sesuai undang-undang dan prinsip tata kelola yang kuat, serta tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan Bank Indonesia yang tetap profesional,” tegasnya.

Perry menambahkan, pelemahan mata uang tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga terjadi di berbagai negara. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia menegaskan tidak akan ragu melakukan intervensi secara terukur dan agresif, baik melalui instrumen non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri, domestic non-deliverable forward (DNDF), maupun intervensi di pasar spot domestik.

Tonton: AHY Akan Bentuk Komite Nasional Bereskan Utang Kereta Cepat

“Kami akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendorongnya agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang baik, imbal hasil aset keuangan yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang membaik,” ujar Perry.

Langkah stabilisasi tersebut didukung oleh cadangan devisa Indonesia yang berada pada level cukup besar dan lebih dari memadai. Bank Indonesia, kata Perry, tidak akan ragu memanfaatkan cadangan devisa yang telah dikumpulkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Kami meyakini rupiah akan tetap stabil dan ke depan cenderung menguat,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag

TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

×