Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai memberikan dampak dua arah terhadap kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI), Banjaran Surya Indrastomo, menyebut tekanan nilai tukar terutama terasa pada sisi belanja negara.
Menurut Banjaran, sejumlah pos belanja pemerintah sangat sensitif terhadap pergerakan kurs, di antaranya pembayaran bunga utang dalam valuta asing, subsidi dan kompensasi energi, serta belanja impor pemerintah.
“Pelemahan rupiah akan meningkatkan nilai kewajiban valas dalam denominasi rupiah. Kondisi ini berpotensi memperlebar defisit fiskal jika tidak diimbangi dengan pengendalian belanja yang ketat,” ujar Banjaran kepada Kontan, Rabu (14/1/2026).
Tekanan tersebut tercermin pada realisasi defisit APBN per Desember 2025 yang mencapai 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), mendekati ambang batas fiskal yang ditetapkan pemerintah.
Baca Juga: Orang Tua Wajib Tahu: Nestlé Indonesia Tarik Sukarela 2 Bets S-26 Promil Gold pHPro 1
Meski demikian, Banjaran menilai pelemahan rupiah juga memberikan bantalan dari sisi penerimaan negara. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), khususnya dari sektor migas dan royalti sumber daya alam (SDA), serta penerimaan pajak berbasis ekspor berpotensi meningkat dalam denominasi rupiah ketika nilai tukar melemah.
Hal ini tercermin dari realisasi PNBP yang mampu melampaui outlook APBN. Namun, Banjaran mengingatkan bahwa kinerja penerimaan perpajakan yang masih berada di bawah target tetap menjadi perhatian utama untuk menjaga kesinambungan fiskal ke depan.
Terkait asumsi nilai tukar dalam APBN 2026, Banjaran menilai pemerintah tidak perlu terburu-buru melakukan penyesuaian. Menurutnya, fokus kebijakan sebaiknya diarahkan pada peningkatan kualitas belanja negara, pengendalian pembiayaan utang secara prudent, serta penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dengan Bank Indonesia.
Tonton: Barito Renewables (BREN) Temukan Potensi Panas Bumi 60 MW di Halmahera Utara
“Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam menjaga stabilitas makroekonomi dibandingkan sekadar menyesuaikan asumsi kurs di tengah volatilitas global,” pungkas Banjaran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













