kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45900,82   11,02   1.24%
  • EMAS1.333.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%
AKTUAL /

Korea Utara Uji Coba ICBM Paling Canggih, Bisa Jangkau Amerika


Selasa, 19 Desember 2023 / 07:14 WIB
Korea Utara Uji Coba ICBM Paling Canggih, Bisa Jangkau Amerika
ILUSTRASI. Pada Senin (18/12/2023), Korea Utara melakukan uji coba rudal balistik antarbenua tercanggihnya yang berpotensi mencapai Amerika Serikat. KCNA via REUTERS

Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Pada Senin (18/12/2023), Korea Utara melakukan uji coba rudal balistik antarbenua tercanggihnya yang berpotensi mencapai Amerika Serikat. 

Hal ini memperpanjang daftar jumlah uji coba senjata yang memecahkan rekor tahun 2023 dan memicu kecaman internasional lebih lanjut.

Melansir AFP, Korea Selatan mengatakan Korea Utara menembakkan ICBM yang menggunakan bahan bakar padat, yang membuat rudal lebih mudah diangkut dan ditembakkan lebih cepat dibandingkan versi berbahan bakar cair.

Peluncuran pada hari Senin kemarin adalah yang ketiga kalinya Korea Utara menguji ICBM berbahan bakar padat. Sebelumnya, Korea Utara meluncurkan ICBM pada bulan April dan Juli. Menurut para analis, langkah ini menandakan upaya konsisten untuk meningkatkan teknologi tersebut.

Korea Utara mengatakan, dua rudal sebelumnya adalah rudal "Hwasong-18".

Amerika Serikat, Korea Selatan dan Jepang dengan cepat mengutuk uji coba rudal tersebut. Mereka menyatakan bahwa hal tersebut melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dan akan membuat semenanjung Korea menjadi kurang aman.

Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol memerintahkan tindakan balasan yang segera dan luar biasa, dan menyerukan tanggapan bersama dengan Amerika Serikat dan Jepang.

Baca Juga: Korea Utara Tembak Rudal Jarak Pendek, Semenanjung Korea Memanas

Kementerian Pertahanan Jepang mengatakan ICBM memiliki potensi jangkauan lebih dari 15.000 kilometer, yang akan mencakup seluruh Amerika Serikat. Ini menyusul peluncuran rudal jarak pendek pada Minggu malam.

“(Peluncuran tersebut) tidak hanya merupakan pelanggaran nyata terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB tetapi juga merupakan ancaman terhadap perdamaian dan stabilitas kawasan dan kami sangat mengutuknya,” kata Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang akan mengadakan pertemuan pada Selasa sore untuk membahas Korea Utara, telah mengadopsi beberapa resolusi yang menyerukan Pyongyang untuk menghentikan program nuklir dan rudal balistiknya sejak pertama kali melakukan uji coba nuklir pada tahun 2006.

Setelah uji coba tersebut, Stephane Dujarric, juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, meminta Korea Utara untuk sepenuhnya mematuhi kewajiban internasionalnya, termasuk berdasarkan resolusi Dewan Keamanan yang relevan.

Namun China, sekutu dekat Korea Utara, tidak memberikan tanggapan langsung terhadap peluncuran terbaru tersebut dan malah mengeluarkan pernyataan yang menyoroti kepercayaan mendalam antara kedua negara.

“Dalam menghadapi situasi internasional yang bergejolak, China dan DPRK selalu dengan tegas mendukung dan mempercayai satu sama lain,” kata Menteri Luar Negeri Wang Yi setelah bertemu dengan seorang pejabat dari Pyongyang.

Baca Juga: Jarang Terjadi, Kim Jong Un Akui Salah Satu Kelemahan Negaranya, Apa Itu?

Melansir South China Morning Post, Korea Utara mengatakan pihaknya akan bekerja sama dengan Tiongkok dalam perdamaian dan stabilitas regional ketika delegasi senior mengunjungi Beijing, dan Pyongyang melakukan peluncuran rudal balistik antarbenua terbarunya.

Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara Pak Myong-ho mengatakan kepada diplomat top Tiongkok Wang Yi pada hari Senin bahwa negaranya akan terus memperdalam hubungan dengan Tiongkok untuk “menjaga kepentingan bersama” beberapa jam setelah negara itu meluncurkan ICBM kelima tahun ini di tengah meningkatnya ketegangan dengan AS dan sekutunya. 

“DPRK [Republik Demokratik Rakyat Korea] akan terus memperkuat kerja sama multilateral dengan China untuk menjaga kepentingan bersama dan menjaga perdamaian dan stabilitas regional,” kata Pak, menurut kementerian luar negeri China.

Militer Korea Selatan awalnya mengatakan telah mendeteksi peluncuran rudal balistik jarak jauh dari wilayah Pyongyang pada Senin pagi yang terbang sejauh 1.000 kilometer (620 mil) sebelum jatuh di Laut Timur, yang juga dikenal sebagai Laut Jepang.

Korea Selatan melaporkan bahwa rudal tersebut terbang ke atas, bukan melintasi, sebuah metode yang sebelumnya Pyongyang gunakan dalam beberapa uji coba senjata untuk menghindari terbang di atas negara-negara tetangga.

Negara dengan kekuatan nuklir

Mengutip AFP, pada tahun lalu, Korea Utara mendeklarasikan dirinya sebagai negara dengan kekuatan nuklir yang “tidak dapat diubah”.

Negara tersebut telah berulang kali menyatakan bahwa mereka tidak akan pernah menghentikan program nuklirnya.

Park Won-gon, seorang profesor Studi Korea Utara di Universitas Ewha di Seoul, mengatakan bahwa ICBM terbaru kemungkinan besar adalah Hwasong-18, dan menambahkan bahwa itu akan menjadi aset besar bagi Korea Utara, jika dan ketika sudah mulai beroperasi.

“Hwasong-18 menggunakan bahan bakar padat, sehingga tidak memerlukan waktu persiapan, dan dapat langsung ditembakkan dari peluncur bergerak, dan dapat dilihat sebagai sistem senjata dengan kemampuan praktis untuk menyerang daratan AS,” kata Park kepada AFP.

Namun, Korea Utara belum menyempurnakan kemampuan tersebut, menurut Go Myong-hyun, seorang peneliti di Asian Institute for Policy Studies.

“Mengenai ICBM, masih banyak aspek teknis yang perlu dilengkapi, termasuk pengamanan teknologi re-entry dan teknologi hulu ledak ganda,” kata Go kepada AFP.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

×