Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Kelas menengah Indonesia dinilai tengah menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat akibat kenaikan biaya hidup yang melampaui pertumbuhan pendapatan riil masyarakat.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny Sasmita, mengatakan kondisi tersebut berpotensi membuat sebagian kelompok kelas menengah turun status menjadi kelompok rentan miskin apabila berlangsung hingga 2026.
Menurut Ronny, tekanan terhadap kelas menengah terlihat dari kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dan biaya hidup, mulai dari bahan bakar minyak (BBM), pangan, pendidikan, sewa rumah, hingga cicilan. Sementara itu, pertumbuhan pendapatan masyarakat cenderung stagnan.
Ia menilai kelompok kelas menengah berada pada posisi rawan karena tidak cukup miskin untuk menerima bantuan sosial, tetapi juga belum memiliki aset yang kuat untuk menghadapi tekanan ekonomi dalam jangka panjang.
Ronny menyebut fenomena tersebut sebagai middle class squeeze atau himpitan kelas menengah. Jika tekanan ekonomi terus berlanjut sepanjang 2026, sebagian masyarakat kelas menengah berisiko turun menjadi aspiring middle class bahkan masuk kategori rentan miskin.
“Indikasinya sebenarnya sudah terlihat dari perubahan pola konsumsi masyarakat. Banyak rumah tangga mulai menahan belanja nonprimer, mengurangi tabungan, meningkatkan utang konsumtif, bahkan memakai dana darurat untuk kebutuhan harian,” ujar Ronny kepada Kontan.co.id, Rabu (27/5).
Baca Juga: Pemerintah Siapkan 150 Ribu Kuota Magang Nasional 2026, Uang Saku Setara UMP/UMK
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bantalan ekonomi rumah tangga mulai melemah. Padahal, kelas menengah selama ini menjadi motor utama konsumsi domestik yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kalau kelompok ini melemah, efeknya bukan hanya sosial, tetapi juga langsung menekan pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.
Selain tekanan biaya hidup, Ronny juga menyoroti ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dinilai dapat memperburuk kondisi ekonomi kelas menengah.
Menurut dia, pelemahan permintaan industri, kenaikan biaya produksi, dan tekanan ekonomi global mendorong perusahaan melakukan efisiensi tenaga kerja.
“Jika gelombang PHK meluas, maka tekanan terhadap kelas menengah akan jauh lebih besar karena sebagian besar pekerja formal perkotaan berasal dari kelompok ini,” imbuhnya.
Ronny menambahkan, sebagian besar kelas menengah Indonesia masih bergantung pada pendapatan bulanan dan belum memiliki fondasi aset yang kuat. Karena itu, ketika pekerjaan terganggu, daya tahan ekonomi rumah tangga relatif terbatas.
Ia mendorong pemerintah bergerak dalam dua jalur sekaligus, yakni menjaga daya beli masyarakat dan mempertahankan lapangan kerja.
Dari sisi daya beli, pemerintah diminta memastikan inflasi pangan tetap terkendali karena pengeluaran terbesar rumah tangga masih berada pada sektor makanan dan transportasi.
“Stabilitas harga beras, cabai, minyak goreng, dan energi jauh lebih penting bagi psikologi ekonomi masyarakat dibanding sekadar angka pertumbuhan makro yang tinggi,” jelasnya.
Selain itu, Ronny meminta pemerintah memperluas insentif bagi kelas menengah produktif melalui keringanan pajak, subsidi transportasi publik, perumahan terjangkau, hingga perlindungan biaya pendidikan dan kesehatan.
Dari sisi ketenagakerjaan, pemerintah dinilai perlu fokus menciptakan pekerjaan formal berkualitas yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Menurutnya, sektor manufaktur, hilirisasi padat karya, ekonomi digital produktif, serta UMKM berorientasi ekspor perlu diperkuat agar kelas menengah memiliki fondasi ekonomi yang lebih stabil.
Tonton: Terbongkar Dugaan Manipulasi Ekspor CPO, Wilmar dan Musim Mas Disebut Menkeu Purbaya
Ronny juga menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai penyusutan kelas menengah menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai menyadari persoalan tersebut sebagai isu strategis nasional.
“Kalau kelas menengah terus melemah, dampaknya bukan hanya pada konsumsi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga terhadap stabilitas sosial, optimisme generasi muda, dan kualitas demokrasi ekonomi kita ke depan,” tuturnya.
Tabel: Faktor Tekanan terhadap Kelas Menengah
| Faktor | Dampak terhadap Kelas Menengah |
|---|---|
| Kenaikan harga pangan | Mengurangi daya beli rumah tangga |
| Biaya transportasi dan BBM naik | Beban pengeluaran bulanan meningkat |
| Pendidikan dan kesehatan mahal | Menggerus tabungan keluarga |
| Pendapatan stagnan | Konsumsi masyarakat tertahan |
| Gelombang PHK | Risiko kehilangan sumber penghasilan |
| Utang konsumtif meningkat | Ketahanan finansial melemah |
Sekilas mengenai middle-class squeeze dan penyebabnya
Melansir Wikipedia, middle-class squeeze mengacu pada tren negatif dalam standar hidup dan kondisi lain yang dialami kelas menengah dalam populasi. Dalam situasi middle-class squeeze, kenaikan upah gagal mengimbangi inflasi bagi pekerja berpenghasilan menengah, sehingga terjadi penurunan relatif pada upah riil.
Sementara itu, fenomena ini tidak memberikan dampak serupa pada kelompok berpenghasilan tertinggi. Orang-orang dari kelas menengah merasa inflasi barang konsumsi dan pasar perumahan membuat mereka sulit mempertahankan gaya hidup kelas menengah, sekaligus melemahkan harapan untuk naik ke tingkat ekonomi yang lebih tinggi.
Penyebab middle-class sqeezze
Penyebabnya mencakup faktor terkait pendapatan maupun biaya hidup.
1. Perubahan pendapatan
Salah satu narasi yang dijelaskan oleh ekonom Paul Krugman menyebut bahwa kebangkitan konservatisme ekonomi sejak 1970-an, yang diwujudkan lewat kebijakan Reaganomics di Amerika Serikat pada 1980-an, menghasilkan berbagai kebijakan yang lebih menguntungkan pemilik modal dan sumber daya alam dibanding pekerja. Banyak negara maju lain tidak mengalami peningkatan ketimpangan sebesar Amerika Serikat pada periode 1980–2006, meskipun menghadapi kekuatan pasar globalisasi yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan di AS menjadi faktor utama pelebaran ketimpangan.
Tonton: Rupiah Nyaris Rp18 000 per Dolar AS Geopolitik Memanas, Harga Minyak Meledak, Ekonomi RI Tertekan
2. Perspektif historis
Pada 1995, sekitar 60% pekerja Amerika memperoleh upah riil yang lebih rendah dibanding puncak sebelumnya. Bahkan, pada tingkat median, “upah riil pekerja non-supervisori turun 13% dibanding level tertinggi tahun 1973.”
Cara lain pendapatan memengaruhi kelas menengah adalah melalui meningkatnya kesenjangan pendapatan. Temuan menunjukkan bahwa 1% kelompok berpenghasilan tertinggi terus meningkatkan porsi pendapatan yang mereka bawa pulang, sementara pekerja kelas menengah kehilangan daya beli karena upah mereka gagal mengejar inflasi dan pajak.
3. Layanan kesehatan
Jumlah orang yang tidak memiliki asuransi kesehatan juga meningkat sejak 2000.
4. Perubahan keamanan pekerjaan
Lebih dari 92% dari 1,6 juta warga Amerika yang mengajukan kebangkrutan pada 2003 berasal dari kelas menengah.
5. Utang
Utang disebut sebagai salah satu penyebab middle-class squeeze, terutama ketika suku bunga tinggi karena meningkatkan cicilan utang bulanan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













