kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.737.000   34.000   1,26%
  • USD/IDR 16.973   -20,00   -0,12%
  • IDX 9.135   0,83   0,01%
  • KOMPAS100 1.255   -8,26   -0,65%
  • LQ45 884   -8,74   -0,98%
  • ISSI 334   -0,41   -0,12%
  • IDX30 454   -1,06   -0,23%
  • IDXHIDIV20 538   0,43   0,08%
  • IDX80 140   -1,06   -0,76%
  • IDXV30 149   -0,12   -0,08%
  • IDXQ30 146   -0,09   -0,06%
AKTUAL /

Modal Asing Deras, Mengapa Rupiah Justru Melemah? Ini Penjelasan Menkeu Purbaya


Rabu, 21 Januari 2026 / 02:54 WIB
Modal Asing Deras, Mengapa Rupiah Justru Melemah? Ini Penjelasan Menkeu Purbaya
ILUSTRASI. Mengapa rupiah anjlok padahal modal asing membanjiri? Menkeu Purbaya punya jawaban, tapi menunjuk BI sebagai otoritas utama nilai tukar.(ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp17.000 per dolar AS, meski di saat yang sama arus modal asing (capital inflow) deras masuk dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.075,41 pada Senin (19/1).

Kondisi tersebut dinilai menjadi sebuah anomali karena tidak sejalan dengan penguatan indikator fundamental ekonomi domestik. Menurut Purbaya, secara teori masuknya modal asing seharusnya memberikan tekanan penguatan terhadap nilai tukar rupiah.

Namun demikian, Purbaya menegaskan bahwa kebijakan nilai tukar sepenuhnya berada di bawah kewenangan bank sentral. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Keuangan, tidak memiliki ruang untuk melakukan intervensi langsung terhadap pergerakan rupiah.

“Tanya saja ke Bank Sentral apa yang terjadi. Ketika capital inflow masuk ke sini besar, kenapa rupiahnya melemah? Karena saya enggak bisa intervensi untuk kebijakan nilai tukar, itu otoritas Bank Sentral,” ujar Purbaya saat ditemui di kompleks Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (20/1/2026).

Baca Juga: Jaga Dana Anda: Menkeu Tegas Bantah Resmikan Pinjol Al Mubarok

Meski rupiah tertekan, Purbaya menilai pelemahan tersebut masih tergolong terbatas. Secara year to date (ytd), depresiasi rupiah berada di kisaran 2%–3%, sehingga dampaknya terhadap perekonomian nasional dinilai masih dapat dikendalikan.

“Kalau pelemahan dilihat dari persentase, kan sedikit dibanding level sebelumnya. Jadi harusnya sistem kita terjaga dan dampaknya ke ekonomi minimum,” katanya.

Lebih lanjut, Purbaya menekankan bahwa stabilitas nilai tukar sangat bergantung pada kekuatan fundamental ekonomi. Selama pondasi ekonomi terus membaik dan aktivitas ekonomi domestik meningkat, kepercayaan investor, baik domestik maupun asing, akan tetap terjaga.

Ia menunjuk kinerja pasar modal sebagai salah satu indikator utama kepercayaan investor. Menurutnya, penguatan IHSG hingga mencetak rekor tertinggi tidak mungkin terjadi tanpa dukungan arus dana investor yang solid.

“Anda lihat pasar modal kan naik. Pasar modal enggak mungkin naik kalau enggak ada investor asing atau investor domestik masuk ke sini juga,” ujarnya.

Baca Juga: Puasa Ramadhan 2026: Tersisa 29 Hari, Cek Beda Pemerintah & Muhammadiyah!

Dari sisi pasokan valuta asing, Purbaya memastikan tidak ada indikasi kelangkaan dolar AS di dalam negeri. Oleh karena itu, pelemahan rupiah dinilai tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.

“Kalau ekonomi kita kita jaga terus dan kita perbaiki ke depan, rupiah akan cenderung menguat. Enggak ada alasan rupiah melemah ketika modal masuk ke sini,” tegasnya.

Menanggapi perbedaan arah antara IHSG yang mencetak all time high dan rupiah yang justru melemah, Purbaya mengaku memiliki penilaian tersendiri. Namun, ia memilih untuk tidak mengungkapkannya ke ruang publik.

“Saya punya assessment, tapi saya enggak boleh ngomong. Anda tanya ke Bank Sentral saja apa yang terjadi,” ujarnya.

Tonton: Auriga Laporkan Toba Pulp Lestari ke Gakkum Kemenhut Terkait Kasus Kerusakan Hutan

Ke depan, Purbaya menyampaikan bahwa pemerintah terus memperkuat koordinasi kebijakan melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Dengan dukungan DPR, ia optimistis sinergi kebijakan tersebut mampu menjaga stabilitas dan mendorong seluruh mesin ekonomi nasional bergerak lebih cepat.

Selanjutnya: Prabowo Temui Wakil PM Inggris dan Kelompok Pengusaha Inggris di Lancaster House

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait


TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

×