Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah sepanjang Februari 2026 diperkirakan akan dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan tekanan global yang saling berkelindan. Meski kondisi makroekonomi Indonesia relatif terjaga, dinamika kepercayaan investor menjadi faktor krusial yang menentukan arah rupiah.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa gonjang-ganjing pasar pasca peringatan dari MSCI telah mendorong investor untuk kembali mengevaluasi risiko pasar keuangan Indonesia secara lebih menyeluruh. Penilaian tersebut tidak lagi semata-mata bertumpu pada indikator fundamental ekonomi.
Menurut Yusuf, investor kini semakin mencermati kualitas tata kelola, transparansi, serta kepastian regulasi di pasar keuangan. Dalam konteks ini, rupiah menjadi lebih sensitif terhadap perubahan persepsi dan sentimen, khususnya dari pelaku pasar global.
“Jika tindak lanjut OJK dan BEI atas masukan MSCI tidak cukup cepat, jelas, dan meyakinkan, maka potensi keluarnya dana asing masih terbuka, dan tekanan terhadap rupiah akan terasa,” ujar Yusuf, Minggu (1/2/2026).
Selain faktor domestik, volatilitas rupiah juga dipengaruhi oleh ketidakpastian global. Arah kebijakan suku bunga di negara maju, dinamika geopolitik, hingga pergeseran arus portofolio global ke aset yang dianggap lebih aman menjadi sumber tekanan eksternal yang sulit dihindari.
Baca Juga: Ekonomi RI Meroket Awal 2026? Negosiasi Tarif AS Beri Sinyal Kuat
Dalam kondisi global yang belum sepenuhnya stabil, investor cenderung bersikap lebih berhati-hati dan menuntut kompensasi risiko yang lebih besar. Akibatnya, meskipun fondasi ekonomi domestik dinilai cukup solid, rupiah tetap rentan terhadap sentimen negatif.
Peluang pelemahan nilai tukar masih terbuka, terutama jika tekanan eksternal bertemu dengan isu kepercayaan di dalam negeri. Oleh karena itu, menjaga stabilitas rupiah dinilai tidak cukup hanya mengandalkan intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing.
Yusuf menegaskan, perbaikan sentimen membutuhkan respons kelembagaan yang kuat. OJK dan BEI perlu menunjukkan langkah substansial dalam merespons masukan MSCI, terutama melalui penguatan transparansi, perlindungan investor, serta kepastian aturan main di pasar keuangan.
Tonton: PPATK Ungkap Ekspor Emas Ilegal ke Singapura dan AS Capai Rp 155 Triliun
Di sisi lain, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter juga harus tetap kredibel dan konsisten agar tidak memunculkan risiko baru. Dengan respons kebijakan yang solid dan tata kelola yang terjaga, tekanan terhadap rupiah diyakini dapat dikelola dengan lebih baik, meskipun volatilitas global masih akan mewarnai pergerakannya sepanjang Februari.
Selanjutnya: Cuaca Wilayah Jabar Senin (2/2): Waspada Hujan Sepanjang Hari
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












