Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai penguatan nilai tukar rupiah hingga ke level Rp 15.000 per dolar Amerika Serikat (AS) bukanlah hal yang sulit dicapai. Menurutnya, hal tersebut sangat memungkinkan apabila kebijakan moneter sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia.
Purbaya menyebut nilai tukar rupiah saat ini belum merefleksikan kondisi fundamental yang sebenarnya dan masih berada pada posisi undervalued. Ia menilai nilai wajar rupiah seharusnya berada di kisaran asumsi APBN 2026, yakni sekitar Rp 16.500 per dolar AS, bahkan berpotensi menguat lebih jauh.
“Saya sudah menyebut Rp 16.500, tetapi tampaknya belum cukup. Menurut saya, menuju Rp 15.000 per dolar AS pun tidak akan terlalu sulit,” ujar Purbaya dalam agenda Indonesia Economic Summit (IES) di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Meski demikian, Purbaya menegaskan pernyataannya tidak mewakili Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter. Namun, ia menilai secara komparatif penguatan rupiah sangat mungkin terjadi jika melihat pergerakan mata uang negara-negara di kawasan.
“Saya tidak bisa bicara atas nama bank sentral. Tetapi jika saya berada di posisi mereka, level tersebut tidak akan sulit dicapai, mengingat mata uang kawasan seperti ringgit Malaysia, dolar Singapura, baht Thailand, dan dong Vietnam semuanya menguat terhadap dolar AS,” katanya.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Diskon Besar: Tiket Pesawat Turun 16%!
Ia menyoroti posisi rupiah yang justru melemah di tengah penguatan mata uang regional, sehingga menjadikan Indonesia sebagai outlier. Menurut Purbaya, menjaga keselarasan pergerakan rupiah dengan mata uang kawasan merupakan mandat utama Bank Indonesia.
“Bagi saya ini agak aneh, tapi itu bukan tugas saya. Tugas bank sentral adalah memastikan rupiah sejalan dengan mata uang negara-negara lain di kawasan,” ujarnya.
Menanggapi anggapan bahwa pelemahan rupiah mencerminkan menurunnya kepercayaan investor terhadap pemerintah, Purbaya menilai pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Namun, ia enggan menjelaskan lebih jauh.
“Kalau saya bicara secara terbuka, itu akan membuka kelemahan pihak tertentu yang tidak ingin saya ungkapkan,” ucapnya.
Lebih lanjut, Purbaya menilai Bank Indonesia memiliki ruang yang sangat luas untuk memperkuat rupiah, terutama karena Indonesia mencatat arus masuk modal bersih (net capital inflow) sejak Oktober 2025 hingga Januari 2026.
Tonton: Penerimaan Pajak Januari 2026 Diproyeksi Tumbuh 30%, Ini Kata Menkeu
“Secara teori, dengan net capital inflow, rupiah seharusnya menguat. Tapi faktanya justru melemah. Anda sebaiknya menanyakan hal ini kepada bank sentral. Mungkin itu memang kebijakan mereka untuk sedikit melemahkannya,” pungkas Purbaya.
Selanjutnya: Berharap Ekonomi Bisa Lari di Tengah Stimulus Mini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













