Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Center of Economics and Law Studies (Celios) menilai daya saing ekonomi Indonesia semakin tertinggal dibandingkan negara-negara utama di kawasan ASEAN. Tekanan daya beli, perlambatan sektor usaha, serta keterbatasan ruang fiskal pemerintah membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diproyeksikan hanya mentok di kisaran 5%.
Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, menyebut target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% pada triwulan IV 2025 terlalu berat untuk direalisasikan. Bahkan secara tahunan, ia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sulit menembus level 5,2%.
“Kami sejak awal sudah meragukan target pertumbuhan 5,4%. Secara tahunan, berat juga mencapai 5,2%. Mentok di 5,0%,” ujar Huda kepada Kontan, Minggu (18/1/2026).
Menurut Huda, arah perlambatan ekonomi sebenarnya sudah bisa terbaca dari realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025. Penurunan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) menjadi sinyal kuat melemahnya daya beli masyarakat.
“Dari kinerja APBN 2025 sebenarnya bisa diterka bagaimana kondisi perekonomian 2025. Dengan penurunan PPN dan PPnBM, terlihat jelas daya beli masyarakat belum pulih,” jelasnya.
Baca Juga: 10 Pekerjaan Ini Terancam Punah oleh AI, Cek Nasib Karier Anda Segera!
Tekanan ekonomi domestik juga tercermin dari meningkatnya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) dibandingkan tahun sebelumnya, diiringi dengan pertumbuhan kredit yang masih melambat. Kondisi ini menunjukkan sektor usaha belum sepenuhnya bangkit dan masih berada dalam fase penyesuaian.
Di sisi lain, daya beli masyarakat hingga kini belum menunjukkan perbaikan berarti. Dampaknya, kelas menengah yang selama ini menjadi penopang utama konsumsi domestik terus mengalami penyusutan.
“Daya beli masyarakat masih belum tumbuh signifikan. Kelas menengah kita terus menurun. Pertumbuhan kredit juga masih lambat meskipun sudah diguyur dana SAL Rp 200 triliun,” kata Huda.
Dari aspek fiskal, keterbatasan anggaran pemerintah pada 2025 dibandingkan tahun sebelumnya diperkirakan akan semakin menahan laju pertumbuhan ekonomi, terutama pada awal tahun.
Huda memprediksi kinerja ekonomi pada kuartal I 2026 akan relatif lambat dan menjadi cerminan kondisi ekonomi sepanjang tahun.
Tonton: CEO Danantara Rosan Masih Kaji Opsi Pembentukan BUMN Baru di Sektor Tekstil
“Awal tahun ini nampaknya akan seret. Kuartal I akan menjadi gambaran ekonomi di 2026. Meski begitu, pemerintah masih memiliki sejumlah instrumen untuk mempengaruhi pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Lebih jauh, Huda menyoroti melemahnya daya saing ekonomi Indonesia di kawasan ASEAN. Indonesia dinilai kalah bersaing dengan Malaysia, Thailand, hingga Vietnam, dan berpotensi semakin tertinggal dari negara-negara ASEAN yang lebih maju.
“Indonesia dulu bersaing dengan Malaysia dan Thailand kalah, bersaing dengan Vietnam juga kalah. Ke depan, lawan tanding ekonomi Indonesia bisa jadi Kamboja dan Laos karena kita tertinggal jauh dari negara maju ASEAN,” pungkasnya.
Selanjutnya: Saham di Bursa Kini Jadi Sasaran Sita Negara untuk Tagih Utang Pajak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
