ads

Pulang dari Jepang, Sederet Oleh-Oleh Janji Ekonomi Dibawa Jokowi

Reporter: Siti Masitoh
Jumat, 29 Juli 2022 | 07:45 WIB
Pulang dari Jepang, Sederet Oleh-Oleh Janji Ekonomi Dibawa Jokowi

ILUSTRASI. Presiden Joko Widodo dan Ibu Iriana Joko Widodo melakukan kunjungan kehormatan kepada Kaisar Jepang Naruhito dan Permaisuri Masako, di Istana Kekaisaran Jepang, Tokyo, Rabu sore, 27 Juli 2022.


Ringkasan:

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali ke tanah air dari Jepang dengan membawa sederet oleh-oleh komitmen investasi.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan, dalam kunjungan ke Jepang Jokowi banyak membahas isu ekonomi .

Kedua negara membahas kerjasama ekonomi di bidang perdagangan, terutama upaya meningkatkan kerjasama perdagangan bilateral.

Pertama, Indonesia meminta adanya penyelesaian hambatan non tarif dan tarif terhadap produk ekspor dari Indonesia. Seperti pada ekspor tuna, pisang, nanas dan mangga.

"Presiden Jokowi secara spesifik meminta agar hambatan tarif dan non tarif terhadap beberapa ekspor Indonesia diatasi. Antara lain Presiden menyebutkan tuna, pisang dan nanas ini mengenai pengurangan tarif, dan juga mangga yang terkait dengan hambatan non tarif," kata Retno dikutip dari Kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (28/7).

Baca Juga: Bertemu Para CEO Korea Selatan, Jokowi: Kalau Ada Kendala Sampaikan ke Saya

Pasalnya, produk ekspor dari Indonesia ke Jepang seperti tuna masih dikenakan tarif 7%. Kemudian ekspor pisang dan nanas dari Indonesia ke Jepang dikenakan bea masuk 10%-20%.

Bea masuk nol persen untuk ekspor pisang dan nanas dari Indonesia hanya diberikan kuota 1.000 ton ke bawah. Indonesia dalam hal ini meminta bea masuk produk Indonesia tersebut di nol-kan.

Kedua, Indonesia berharap apabila protokol Indonesian-Japan Economic Partnersip agreement (IJEPA) dapat ditandatangani saat G20 November mendatang, hubungan perdagangan dan investasi kedua negara dapat terus ditingkatkan.

Ketiga, di bidang investasi, Jokowi meminta adanya kelanjutan kerjasama investasi antara Indonesia-Jepang. Selain itu proyek-proyek kerjasama dengan Jepang dapat diselesaikan tepat waktu dan kompetitif. Di bidang investasi, diantaranya Indonesia mampu membawa komitmen investasi US$5,2 miliar dari Jepang.

Keempat, kerjasama di bidang maritim telah disepakati kerjasama antara Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) dan Coast Guard.

Kelima, pertemuan Indonesia dengan Jepang juga membahas mengenai isu kawasan dan dunia. Retno mengatakan, Jepang menyampaikan penghargaan atas kepemimpinan Indonesia di kawasan. Jepang juga meyakini Indonesia mampu menjalankan kepemimpinan di ASEAN tahun depan.

"Dan Jepang juga sangat menghargai kepemimpinan Indonesia di G20. Perdana Menteri Jepang menyampaikan selamat atas keberhasilan Indonesia menyelenggarakan beberapa kali pertemuan. Termasuk pertemuan Menteri Luar Negeri dan Menteri Keuangan dengan hasil sangat baik," imbuh Retno.

Selain hasil tersebut, Retno menambahkan, Presiden Jokowi juga menyampaikan hasil kunjungan ke Ukraina dan Moskow pada beberapa waktu lalu.

Disamping itu, Jokowi juga membahas mengenai situasi Laut China Selatan. Indonesia menegaskan pentingnya bagi semua negara menjaga perdamaian di Laut China Selatan dan setiap negara menghormati hukum internasional terutama Hukum Laut (UNCLOS 1982).

Retno menambahkan, Presiden Jokowi juga sempat menyampaikan mengenai persoalan Myanmar. Ia menyebut, Presiden Jokowi kecewa terhadap tidak adanya kemajuan signifikan implementasi 5 Point Consensus.

"Semua perkembangan di Myanmar termasuk hukum mati terhadap tahan politik yang baru-baru ini dilakukan menunjukkan adanya kemunduran 5 poin consensus. Semua perkembangan menunjukkan tidak adanya komitmen Junta Militer Myanmar dalam implementasi 5 point consensus," kata Retno.

Baca Juga: Menteri Bahlil: Pengusaha Jepang Akan Kucurkan Investasi Rp 75 Triliun Tahun Depan
 

​Toyota Akan Investasi Mobil Listrik Rp 27 Triliun di Indonesia 

Ekspor mobil Toyota Indonesia

 

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyambut baik rencana tambahan investasi pembangunan kendaraan listrik oleh Toyota Motor Company di Indonesia.

Komitmen investasi Toyota ini disampaikan Shigeru Hayakawa, Vice Chairman of the Board of Directors of Toyota Motor Corporation dalam pertemuan dengan Menko Airlangga di Tokyo, Jepang (26/07).

Dalam pertemuan tersebut, Shigeru Hayakawa menyatakan Toyota akan menambah investasi sebesar Rp 27,1 triliun selama 5 tahun ke depan di Indonesia.

“Kami berharap dengan penambahan jumlah investasi ini di Indonesia, Pemerintah Indonesia memahami keseriusan kami terhadap elektrifikasi kendaraan bermotor,” tutur Hayakawa, Rabu (27/7).

Baca Juga: Bertemu CEO Jepang, Jokowi: Indonesia Salah Satu Tempat Investasi Terbaik

Airlangga mengatakan, Akio Toyoda yang merupakan President Toyota Motor Corporation, pertama kali menjanjikan komitmen investasi di Indonesia kepada Presiden Joko Widodo dalam pertemuan KTT Osaka di 2019 lalu. Dalam waktu 3 tahun setelahnya, investasi Toyota telah mencapai Rp 14 triliun.

“Saya meyakini bahwa permintaan kendaraan listrik baik roda empat maupun roda dua di Indonesia maupun di kawasan ASEAN ke depan akan terus meningkat. Indonesia dapat dijadikan industrial base produksi Electric Vehicle (EV) untuk dipasarkan di kawasan ASEAN maupun di Indonesia sendiri,” ujar Airlangga dalam keterangan tertulis, Rabu (27/7).

Selain itu, Toyota juga dapat berkontribusi dalam penurunan emisi serta penurunan impor bahan bakar fosil dengan mempopulerkan penggunaan Electric Vehicle (EV) di Indonesia. Pihak Toyota menyampaikan bahwa rencana untuk menambah beberapa jenis kendaraan Hybrid Electric Vehicle (HEV) sudah masuk dalam pipeline waktu 4 tahun ke depan.

Baca Juga: Jokowi Bawa Pulang Komitmen Investasi US$ 5,2 Miliar dari Kunjungan di Jepang

 

Menko Airlangga Tagih Janji Jepang Pangkas Tarif Bea Masuk Produk Perikanan Jadi 0%

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di sela-sela acara pertemuan dengan beberapa Menteri dan CEO beberapa Perusahaan Jepang, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto bertemu dengan Minister of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) Kaneko Genjiro, untuk membahas kendala dalam ekspor produk perikanan dan pertanian Indonesia ke Jepang.

Dalam pertemuan tersebut, Airlangga mengatakan, pemerintah Indonesia menginginkan Jepang agar dapat menurunkan atau membebaskan tarif Bea Masuk atas produk perikanan Indonesia menjadi 0% sebagaimana telah dinikmati beberapa negara ASEAN (seperti Thailand dan Vietnam), yang mana saat ini Indonesia masih dikenakan tarif yang lebih tinggi.

Menurutnya, produk pertanian dan perikanan Indonesia sangat potensial untuk masuk ke pasar Jepang. Di sektor pertanian, khususnya komoditas buah tropis, Jepang saat ini masih bergantung kepada suplai buah luar negeri.

Baca Juga: Kepada CEO Jepang, Jokowi: Silahkan Minta Nomor HP Menteri Investasi, Ini Penting

Produksi buah di Jepang baru memenuhi 39% dari permintaan domestik. Sementara, ekspor buah tropis Indonesia ke Jepang, melalui IJEPA telah dapat mengekspor Pisang, Nanas dan Bunga potong krisan ke Jepang dengan kuota yang masih relatif sangat kecil, untuk ekspor Pisang sebesar 3.000 ton dan Nanas 1.800 ton per tahun.

Pemerintah Indonesia juga tengah mendorong pembukaan akses pasar, untuk buah tropis Indonesia ke Jepang, khususnya buah Mangga, yang saat ini terkendala persyaratan Bebas Lalat Buah. Sementara Jepang meminta dapat dilakukan dengan penggunaan Vapor Heat Treatment (VHT) yang masih belum bisa dipenuhi Indonesia.

Adapun Indonesia akan terus mendorong perubahan protocol General Review IJEPA, terutama untuk mendorong akses pasar produk pertanian dan perikanan Indonesia di Jepang,  khususnya terkait eliminasi 4 pos tarif Ikan Tuna Kaleng Indonesia. 

“Nilai ekonomi dari 4 pos tarif Tuna Kaleng Indonesia tersebut pada ekspor ke Jepang tahun 2020 sebesar USD 73,8 Juta atau sekitar 12% dari total nilai ekspor produk perikanan Indonesia ke Jepang,” tutur Airlangga dalam keterangan tertulisnya, Rabu (37/7).

Dalam pertemuan tersebut juga dibahas terkait kemungkinan Penerimaan Sertifikasi New ISPO oleh Jepang.  Pemerintah Indonesia memastikan biomassa kelapa sawit sebagai bahan baku baku akan dapat memenuhi aspek keberlanjutan, sesuai yang dipersyaratkan Pemerintah Jepang di bawah skema Feed in Tariff (FIT).

Baca Juga: Jepang Siap Beri Utang ke Indonesia Sebesar Rp 4,8 Triliun ke Indonesia

“Jepang saat ini tengah menunggu peraturan turunan Perpres New ISPO yang mengatur hilirisasi industri sawit Indonesia dan juga pengaturan Permenperin tentang Pedoman Tata Cara Industri Hilir Kelapa Sawit,” jelasnya.

Jepang berkepentingan terhadap produk hilir cangkang kelapa sawit untuk digunakan sebagai sumber energi baru dan terbarukan bagi pembangkit listrik di Jepang.

Pada pertemuan tersebut, Menko Airlangga didampingi oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Sedangkan dari pihak Jepang dihadiri oleh Mr. Tatsuo Fukuda, Chairman LDP (Liberal Democratic Party) Jepang, yang didampingi oleh Mr. Arata Takebe, State Minister of Agriculture, Forestry and Fisheries.

 

Menteri Bahlil: Pengusaha Jepang Akan Kucurkan Investasi Rp 75 Triliun Tahun Depan


Presiden bertemu para CEO Jepang

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investasi perusahaan Jepang di Indonesia bakal bertambah besar. Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, perusahaan-perusahaan Jepang bakal berinvestasi di Indonesia sebesar US$ 5,2 miliar  atau setara dengan Rp 75,4 triliun pada tahun depan.

Hal ini merupakan hasil pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang didampingi para menteri bersama 10 CEO perusahaan ternama Jepang.

“Alhamdulillah kita bisa buat deal bisnis dan bisa direalisasikan tahun depan Rp 75,4 triliun atau US$ 5,2 miliar. Investasi baru, khususnya di bidang pembangunan metanol, ekspansi mobil, kemudian energi baru terbarukan (EBT),” ujar Bahlil dalam konferensi pers virtual, Rabu (27/7).

Baca Juga: Jokowi Bawa Pulang Komitmen Investasi US$ 5,2 Miliar dari Kunjungan di Jepang

Bahlil menjelaskan, rencana ini merupakan investasi baru khususnya investasi di bidang pembangunan methanol, pembangunan ekspansi industri mobil, dan sektor EBT.

Menurutnya, investasi ini tersebar tidak hanya di satu provinsi saja, melainkan akan dialkukan di beberapa wilayah mulai seperti Maluku, Papua, Jawa barat dan wilayah lainnya.

Khusus untuk pembangunan pabrik methanol, investasi akan dilakukan di Papua Barat. Investasi ini nantinya akan juga berkolaborasi antara BUMN dengan swasta nasional.

“Mereka (10 CEO Jepang) menyampaikan rasa kepuasan kepada pengelolaan investasi sekarang, khususnya dengan UU Cipta Kerja, dan tidak ada  komplain dari mereka,” katanya.

Bahlil juga mengatakan, Presiden Jokowi menyampaikan secara tegas kepada para CEO tersbeut, bahwa jika ada masalah dalam mengurus investasi, bisa menemui Kementerian Investasi agar bisa membantu permasalahan tersebut.

“Presiden secara tegas menyatakan bahwa silakan mengurus investasi kalau ada masalah nanti silakan ke Menteri Investasi, kalau memang tak selesai pak Presiden sendiri yang membantunya,” kata Bahlil.

Baca Juga: Bertemu Para CEO Korea Selatan, Jokowi: Kalau Ada Kendala Sampaikan ke Saya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hasbi Maulana

Terbaru