Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Kinerja sektor manufaktur Indonesia menunjukkan perlambatan signifikan pada akhir kuartal I-2026. Indeks PMI (Purchasing Manager's Index) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global tercatat turun ke level 50,1 pada Maret 2026, dari 53,8 pada Februari.
Penurunan ini menandakan aktivitas manufaktur nasional berada di titik nyaris stagnan, meski masih berada di zona ekspansi.
Indef: PMI Masih Ekspansi, Tapi Sudah Sangat Rentan
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menilai, meskipun indeks PMI masih berada di atas level 50, posisi tersebut sudah terlalu dekat dengan ambang kontraksi.
Menurutnya, kondisi ini membuat sektor manufaktur sangat rentan terhadap tekanan eksternal, terutama dari ketidakpastian global dan kenaikan biaya energi.
Rizal menyoroti kenaikan harga energi dan ketidakpastian global sebagai faktor utama yang dapat menekan kinerja industri ke depan.
Pemerintah Diminta Tekan Biaya Produksi Energi dan Logistik
Dalam situasi ini, Rizal menilai pemerintah perlu memprioritaskan penurunan biaya produksi, terutama dari sisi energi dan logistik.
Ia menegaskan stabilitas harga energi, khususnya gas untuk industri, menjadi krusial agar pelaku usaha tidak menahan produksi maupun menurunkan tingkat utilisasi kapasitas.
Baca Juga: Potensi Devisa Pariwisata RI Rp 2 Triliun Melayang Akibat Perang Iran!
Likuiditas dan Pembiayaan Industri Harus Dijaga
Selain biaya produksi, Rizal juga menekankan pentingnya menjaga likuiditas dan akses pembiayaan bagi sektor industri.
Di tengah ketidakpastian global, dunia usaha cenderung menunda ekspansi. Karena itu, pemerintah perlu mendorong dukungan melalui restrukturisasi kredit, insentif suku bunga, hingga skema penjaminan agar aktivitas produksi tetap berjalan.
"Tanpa intervensi ini, perlambatan PMI berisiko berlanjut menjadi kontraksi riil di sektor manufaktur," ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (1/4/2026).
Permintaan Domestik Jadi Kunci Saat Ekspor Melemah
Di sisi lain, penguatan permintaan domestik juga dinilai menjadi faktor penting. Ketika kinerja ekspor melemah, konsumsi dalam negeri harus mampu menjadi penopang utama.
Salah satu instrumen yang dinilai efektif adalah belanja pemerintah, terutama belanja yang memiliki efek pengganda tinggi bagi industri dan sektor pendukungnya.
Tonton: RESMI! Mendagri Kunci WFH ASN Tiap Jumat, Ini Aturan Lengkapnya!
Kepastian Kebijakan Dibutuhkan untuk Dorong Investasi
Rizal juga menekankan pentingnya kepastian dan konsistensi kebijakan, terutama yang berkaitan dengan sektor industri dan investasi.
Menurutnya, kepastian kebijakan diperlukan agar tidak menambah ketidakpastian baru yang dapat menahan langkah ekspansi pelaku usaha di tengah tekanan global yang belum mereda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













