Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Kasus superflu atau influenza tipe A (H3N2) subclade K kembali menjadi sorotan setelah beredar kabar meninggalnya satu pasien lansia di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, belum lama ini.
Mengutip dari Kompas.com, Kamis (8/1/2026), pasien yang terpapar influenza tipe A (H3N2) subclade K meninggal dunia dengan disertai penyerta atau komorbid, seperti stroke, gagal jantung, dan gangguan ginjal. Kombinasi superflu dengan penyakit bawaan inilah yang dianggap menjadi faktor penentu memburuknya kondisi pasien.
Lantas, apakah infeksi superflu meningkat jika ada komorbid? Untuk mengetahui jawabannya, Kompas.com menghubungi Spesialis Patologi Klinik dan Imunologi Klinik Prof. Dr. dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK(K), PhD, FISQua, CHAE.
Komorbid dapat meningkatkan risiko keparahan superflu
Tonang menjelaskan, keberadaan komorbid dapat mempertinggi risiko ketika seseorang terinfeksi influenza. Secara umum, kelompok komorbid dibagi menjadi tiga, yakni karena usia, karena penyakit kronis, karena kondisi tertentu.
Dari usia dan penyakit kronis
Dari sisi usia, kelompok berumur lebih dari 65 tahun menunjukkan risiko 70–80 persen lebih tinggi mengalami flu berat.
Lebih-lebih bila faktor usia disertai juga faktor penyakit kronis seperti asma, diabetes, stroke, penurunan fungsi ginjal, dan penyakit jantung.
Baca Juga: Harga Beras SPHP Dipastikan Rp 12.500/Kg, Kapan Mulai Berlaku?
"Laporan tahun 2020 menyebutkan bahwa 1 dari 8 pasien flu yang terpaksa dirawat inap, disertai masalah pada jantungnya," jelas Tonang kepada Kompas.com, Selasa (13/1/2026).
Risiko serupa juga bisa terjadi pada kelompok usia anak-anak.
Tonang menyebut, laporan pada tahun 2022, komorbid pada anak kurang dari 18 tahun adalah asma, diikuti dermatitis atopik, dan penyakit metabolik endokrin.
"Anak-anak dengan penyakit metabolik ini, berisiko delapan kali lebih besar untuk dirawat karena flu. Risiko ini lebih besar lagi pada anak-anak kurang dari dua tahun," lanjutnya.
Kondisi khusus
Selain usia dan penyakit kronis, sejumlah kondisi khusus turut memperberat dampak infeksi flu. Kondisi khusus yang dimaksud seperti kehamilan, obesitas, dan penurunan fungsi imun.
"Begitu juga bila berada pada lingkungan yang memicu penurunan fungsi imun seperti udara yang kotor, sanitasi yang buruk, atau kelembapan tinggi," paparnya.
Soal kemunculan superflu yang belakangan ini jadi perbincangan, Tonang menekankan bahwa karakteristik yang paling menonjol adalah daya tularnya lebih cepat.
"Karena itu menambah satu faktor risiko lagi bila terjadi infeksi pada orang komorbid tersebut," ucapnya.
Kondisi tersebut menambah faktor risiko, terutama jika terjadi pada orang dengan komorbid.
Baca Juga: Rupiah Terancam Melemah, Investor Waspadai Angka Defisit APBN
Kenapa komorbid meningkatkan keparahan superflu?
Tonang menuturkan, penjelasan di atas merupakan gambaran umum mengenai risiko pasien komorbid yang terinfeksi flu. Namun, untuk memudahkan pemahaman masyarakat mengenai hal ini, Tonang mengibaratkan kondisi ini dengan situasi pada masa pandemi Covid-19.
Menurutnya, infeksi virus dengan komorbid dapat dianalogikan sebagai titik api pada sebatang kayu.
"Seperti juga pada era Covid, maka ini ibaratnya sebatang kayu ada titik api karena infeksi virus. Sedangkan komorbid itu ibarat siraman minyak ke kayu," sebutnya.
Artinya, dalam keadaan normal mungkin kondisi itu masih bisa dikendalikan. Namun, siraman "minyak" komorbid bisa memperparah "kobaran api" infeksi virus, baik Covid-19 maupun superflu.
"Semakin banyak komorbid, tentu risiko bahwa kayu itu akan terbakar semakin tinggi," ucap Tonang.
Tonton: Prabowo Klaim Banyak Investor Asing Tertarik Proyek Waste to Energy
Tonang menambahkan, hal ini juga selaras dengan laporan yang terjadi di Amerika.
"Laporan di Amerika juga demikian, risiko dirawat di RS dan risiko kematian juga meningkat bila faktor komorbid semakin banyak," tuturnya.
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Kok Bisa Komorbid Bikin Kasus Superflu Berujung Kematian? Ini Penjelasan Dokter"
Selanjutnya: IDX Value30 Melaju 5,44%, Cek Daftar Saham Fundamental Kuat Paling Diburu Awal 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













