kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45935,34   -28,38   -2.95%
  • EMAS1.321.000 0,46%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%
AKTUAL /

Tanda-Tanda Anak Diare Parah yang Tidak Boleh Disepelekan dan Cara Mengatasinya


Sabtu, 06 Januari 2024 / 07:08 WIB
Tanda-Tanda Anak Diare Parah yang Tidak Boleh Disepelekan dan Cara Mengatasinya
ILUSTRASI. Anak diare

Penulis: Tiyas Septiana

KONTAN.CO.ID -  Diare memang sering dialami oleh anak-anak, namun jika tidak ditangani dengan benar dapat membahayakan kesehatan buah hati. 

Bersumber dari Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), mengatasi diare anak sebenarnya sederhana dan tidak mahal. 

Sebelum itu, Anda perlu memahami penyebab diare pada anak yang umumnya disebebkan oleh infeksi virus.

Selain itu bisa juga akibat infeksi bakteri, parasit, alergi, keracunan, intoleransi, dan efek samping obat. Diare akibat infeksi virus bisa sembuh tanpa antibiotik jika sistem imun anak cukup kuat.

Baca Juga: 8 Bahan Alami Pelancar Haid Tidak Teratur, Murah dan Mudah Didapat

Seorang anak dikatakan mengalami diare jika frekuensi buang air besar (BAB) lebih dari 3 kali dalam 24 jam, dan perubahan konsistensi (bentuk) feses menjadi lebih cair.

Anak yang sedang diare terkadang tidak nafsu makan dan mual sehingga asupan cairan tubuh berkurang dan anak menjadi lemas.

Air yang keluar melalui diare juga membuat cairan dan elektrolit dalam tubuh banyak terbuang, terlebih jika anak muntah-muntah. 

Tanda-tanda diare parah pada anak

Dibandingkan orang tua, anak lebih rentan mengalami dehidrasi (kekurangan cairan). Jika tidak segera ditangani, dehidrasi berat bisa sampai menyebabkan penurunan kesadaran, kejang, bahkan kematian. 

Sebagian orang tua sudah waspada sehingga segera ke IGD ketika anaknya diare, tetapi sebagian lainnya masih tidak mengerti bahwa anak sudah jatuh dalam kondisi dehidrasi berat dan butuh penanganan di IGD.

Penyebab terbanyak kematian pada anak dengan diare adalah akibat dehidrasi, oleh sebab itu orangtua perlu memperhatikan tanda bahaya pada anak yang sedang mengalami diare, yakni:

  • Mata menjadi cekung
  • Air mata tidak keluar saat menangis
  • Frekuensi buang air kecil (BAK) jarang, urin sedikit dan berwarna pekat
  • Anak tampak kehausan, bisa tampak rakus saat diberi minum
  • Anak sangat lemas
  • Jika kondisi sudah semakin berat maka anak tidak bisa makan dan minum

Jika anak menunjukkan salah satu tanda bahaya tersebut, maka jangan tunda untuk segera membawa anak ke IGD.

Cara mengatasi anak yang diare

Kementerian Kesehatan RI mempunyai Program untuk mengatasi diare dengan LINTAS DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare) yakni:

  • Memberikan oralit

Oralit berguna untuk mengatasi dehidrasi dengan mengganti cairan dan elektrolit tubuh. Segera berikan oralit begitu anak mengalami diare sampai diarenya berhenti. 

Satu bungkus oralit dilarutkan dalam 1 gelas air matang (200cc). Jika usia anak kurang dari 1 tahun, berikan 50-100cc tiap BAB cair, jika lebih dari 1 tahun berikan 100-200cc. 

Pemberian oralit ini juga bisa mengurangi volume feses dan mengurangi mual muntah pada anak diare.

Baca Juga: Latar Belakang dan Tanggal Dibentuknya BPUPKI serta Sidang-Sidang BPUPKI

  • Memberikan tambahan zink

Zink dalam tubuh akan banyak berkurang saat anak diare. Pemberian zink ini dapat mempercepat penyembuhan diare, menjaga anak tetap sehat, dan mencegah diare berulang. 

Dosis pemberian Zink adalah 10 mg per hari untuk anak usia kurang dari 6 bulan, dan 20mg per hari untuk anak usia 6 bulan atau lebih, selama 10 hari berturut-turut meskipun diare sudah berhenti.

  • Terus memberi ASI dan makan

Berikan ASI sebanyak anak mau, akan lebih baik jika lebih banyak dari biasanya. Jika anak sudah mulai makan, maka pemberian makan dilakukan seperti biasa dengan frekuensi yang lebih sering. 

Lanjutkan hingga 2 minggu setelah diare berhenti untuk mempercepat penyembuhan, pemulihan, dan mencegah malnutrisi. Ayah bunda harus lebih memperhatikan kebersihan makanan, alat makan, dan tangan anak.

  • Selektif memberikan antibiotik

Tidak semua diare membutuhkan antibiotik, hal ini sesuai dengan penjelasan di atas bahwa sebagian besar penyebab diare pada anak adalah virus. 

Hanya ada sebagian kecil kasus diare yang membutuhkan antibiotik dan hal tersebut harus dikonsultasikan dulu dengan dokter. 

Pemberian antibiotik yang tidak tepat justru akan berbahaya karena akan menyebabkan flora normal usus yang diperlukan dalam pencernaan ikut terbunuh sehingga diare menjadi berkepanjangan. 

Selain itu pemberian antibiotik yang tidak tepat justru akan menyebabkan bakteri menjadi resisten (kebal).

  • Segera bawa anak ke dokter

Hal penting yang perlu diperhatikan oleh ayah bunda adalah harus segera kembali periksa ke petugas kesehatan jika ada demam, tinja berdarah, muntah berulang, makan atau minum sedikit, anak sangat kehausan, dan diare makin sering.

Selanjutnya: 4 Mitos Diare Anak Ini Bikin Diare Makin Parah, Cek Cara Mengatasi Diare yang Tepat

Menarik Dibaca: Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Hujan Deras di Jabodetabek sampai Awal Pekan Depan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP) Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet

×