kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%
AKTUAL /

3 Alasan OECD Revisi Turun Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 Menjadi 4,8%


Senin, 30 Maret 2026 / 03:05 WIB
3 Alasan OECD Revisi Turun Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 Menjadi 4,8%
ILUSTRASI. OECD merevisi turun proyeksi ekonomi Indonesia 2026 dan 2027. Pelajari faktor-faktor global yang memengaruhi pertumbuhan dan inflasi nasional. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Reporter: Siti Masitoh | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 dan 2027 dalam laporan "OECD Economic Outlook: Testing Resilience" Maret 2026.

Revisi ini terjadi di tengah meningkatnya risiko global, terutama lonjakan harga energi dan dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang berpengaruh terhadap kondisi ekonomi global dan domestik.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026–2027

Menurut laporan OECD, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan:

- 4,8% pada 2026 (turun dari proyeksi 5% sebelumnya)
- 5,0% pada 2027 (revisi dari 5,1% pada laporan Desember 2025)

Penurunan proyeksi ini juga lebih rendah dibanding target dalam APBN 2026 sebesar 5,4%, yang menunjukkan tekanan ekonomi eksternal yang semakin nyata.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Stimulus Baru sebagai Respons Gejolak Energi Global

Faktor Penyebab Revisi Turun

OECD menyebut beberapa faktor utama penurunan proyeksi:

1. Lonjakan harga energi global  

Konflik di Timur Tengah memicu kenaikan harga energi dunia, yang berdampak pada biaya produksi dan meningkatkan tekanan inflasi.

2. Ketergantungan impor energi Indonesia 

Indonesia masih bergantung pada impor energi, sehingga kenaikan harga internasional langsung memengaruhi biaya domestik dan daya beli masyarakat.

3. Kondisi keuangan global semakin ketat  

Volatilitas pasar keuangan meningkat dan biaya pendanaan menjadi lebih tinggi, menghambat ekspansi investasi.

Inflasi Indonesia Ikut Direvisi Naik

Selain pertumbuhan PDB, OECD juga merevisi proyeksi inflasi Indonesia, yakni 3,4% pada 2026 (naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,1%).

Kenaikan inflasi ini dipandang sebagai dampak langsung dari tekanan harga energi dan biaya produksi yang meningkat.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Pajak Tambahan Barang E-commerce China, Ini Alasannya

Dampak Global terhadap Perekonomian

OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melambat menjadi 2,9% pada 2026 sebelum menanjak sedikit ke 3,0% pada 2027. Perlambatan ini didorong oleh tekanan geopolitik dan tantangan pasar keuangan internasional.

Indonesia: Tantangan dan Peluang

Meskipun proyeksi turun, OECD menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif tetap terjaga berkat:

Tonton: Bahlil Bocorkan Empat Kebijakan Soal Tambang Mulai Relaksasi Produksi Hingga Harga

- Dukungan fiskal yang berkelanjutan  
- Pertumbuhan konsumsi domestik yang kuat

Dukungan kebijakan fiskal dan konsumsi swasta menjadi kunci stabilitas ekonomi Indonesia di tengah tekanan global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

×