Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan konflik di Timur Tengah akan semakin memperburuk prospek perekonomian global. Eskalasi perang tersebut dinilai memberi tekanan besar terhadap harga komoditas dan stabilitas pasar keuangan dunia.
“Perang di Timur Tengah makin memperburuk prospek ekonomi global,” ujar Perry dalam konferensi pers daring, Rabu (22/4/2026).
Menurut Perry, meningkatnya ketegangan geopolitik telah mendorong kenaikan harga minyak dan sejumlah komoditas global. Situasi ini juga memperdalam disrupsi rantai pasok perdagangan antarnegara, sehingga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi dunia.
Seiring perkembangan tersebut, Bank Indonesia memperkirakan prospek pertumbuhan ekonomi global pada 2026 akan melambat menjadi 3,0%. Angka ini lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di level 3,1%.
“Prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2026 makin melambat menjadi 3,0% dari prakiraan sebelumnya sebesar 3,1%,” ungkap Perry.
Selain pertumbuhan yang melemah, tekanan inflasi global juga diperkirakan meningkat. BI memproyeksikan inflasi global pada 2026 mencapai 4,2%, naik dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 4,1%.
Perry menilai, kenaikan inflasi ini akan semakin mempersempit ruang bank sentral global untuk melonggarkan kebijakan moneter. Dampaknya, ketidakpastian pasar keuangan global diperkirakan meningkat dan memicu volatilitas arus modal.
Baca Juga: Kemendagri Evaluasi WFH ASN: Penghematan BBM di Bogor dan Bekasi Hampir Rp 1 Miliar
Lebih lanjut, Perry mengatakan penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat atau Fed Funds Rate (FFR) diperkirakan akan tertunda. Bahkan, suku bunga AS berpotensi bertahan tinggi hingga akhir 2026.
Pada saat yang sama, imbal hasil (yield) US Treasury terus mengalami peningkatan. Hal ini dipengaruhi oleh proyeksi defisit fiskal Amerika Serikat yang diperkirakan lebih besar.
Kondisi tersebut kemudian mendorong pergeseran aliran modal global ke instrumen safe haven, terutama pasar uang Amerika Serikat. Preferensi investor terhadap aset aman atau fenomena flight to safety semakin menguat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Perry juga menyoroti indeks dolar AS terhadap mata uang negara maju yang terus menguat. Sementara itu, mata uang negara berkembang menghadapi tekanan lebih besar akibat arus modal yang berpindah ke aset dolar.
Tonton: Kemenperin: Kenaikan Harga Solar Berpotensi Geser Preferensi Konsumen Otomotif
“Memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global tersebut mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga ketahanan eksternal, memperkuat stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” tutup Perry.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













