kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.010,87   12,58   1.26%
  • EMAS1.128.000 0,27%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%
AKTUAL /

Apakah Epilepsi Penyakit Keturunan dan Bisa Disembuhkan? Ini Gejala dan Pengobatannya


Senin, 12 Februari 2024 / 10:52 WIB
Apakah Epilepsi Penyakit Keturunan dan Bisa Disembuhkan? Ini Gejala dan Pengobatannya
ILUSTRASI. Apakah Epilepsi Penyakit Keturunan?

Penulis: Virdita Ratriani

KONTAN.CO.ID - Hari epilepsi internasional diperingati setiap 12 Februari. Hari epilepsi internasional adalah gagasan dari Biro Internasional untuk epilepsi dan Liga Internasional Melawan Epilepsi. Namun, apa arti epilepsi dan gejala epilepsi? 

Arti epilepsi sama dengan penyakit ayan. Epilepsi adalah gangguan sistem saraf pusat (neurologis) di mana aktivitas otak menjadi tidak normal. 

Hal ini dapat menyebabkan kejang atau periode perilaku yang tidak biasa, dan terkadang kehilangan kesadaran. Dikutip dari Mayo Clinic, epilepsi dapat menyerang pria dan wanita dari semua ras, latar belakang etnis, dan usia.

Lantas, apa saja gejala epilepsi dan apakah epilepsi penyakit keturunan? 

Baca Juga: Cara Tepat Mengatasi Step saat Anak Demam dan Penyebabnya

Gejala epilepsi

Epilepsi disebabkan oleh aktivitas abnormal di otak. Gejala epilepsi yang paling umum adalah kejang. Kejang dapat memengaruhi proses apa pun yang dikoordinasikan oleh otak dan ini bisa sangat bervariasi. 

Beberapa penderita epilepsi hanya menatap kosong selama beberapa detik selama kejang, sementara yang lain berulang kali menggerakkan lengan atau kaki mereka. 

Meski demikian, mengalami kejang bukan berarti selalu dikaitkan dengan epilepsi. Kejang yang menjadi gejala epilepsi adalah terjadi berulangkali.

Beberapa tanda dan gejala epilepsi yang termasuk dalam kejang antara lain: 

  • Kebingungan sementara
  • Tatapan mata kosong
  • Gerakan menyentak tak terkendali pada lengan dan kaki
  • Kehilangan kesadaran
  • Gejala psikis seperti ketakutan, kecemasan atau deja vu

Gejala epilepsi bervariasi tergantung pada jenis kejang. Pada kebanyakan kasus, penderita epilepsi akan cenderung mengalami jenis kejang yang sama setiap saat, sehingga gejalanya akan serupa dari episode ke episode.

Baca Juga: Penyebab Anak Step saat Demam dan Cara Mengatasinya, Orangtua Wajib Tahu!

Penyebab epilepsi

Penyebab epilepsi secara jelas hanya dapat diketahui pada sebagian kecil kasus. Namun, untuk penyebab kejang pada epilepsi biasanya melibatkan beberapa cedera pada otak.

Berikut adalah beberapa penyebab utama epilepsi meliputi:

  • Oksigen yang rendah selama kelahiran
  • Cedera kepala yang terjadi saat lahir atau karena kecelakaan selama masa muda atau dewasa
  • Tumor otak
  • Kondisi genetik yang mengakibatkan cedera otak, seperti tuberous sclerosis
  • Infeksi seperti meningitis atau ensefalitis
  • Stroke atau jenis kerusakan otak lainnya
  • Kadar zat yang tidak normal seperti natrium atau gula darah
  • Gangguan perkembangan, seperti autisme dan neurofibromatosis
  • Cedera sebelum lahir, seperti kerusakan otak akibat infeksi pada ibu, gizi buruk atau kekurangan oksigen

Hingga 70% dari semua kasus epilepsi pada orang dewasa dan anak-anak, tidak ada penyebab pasti yang dapat ditemukan.

Baca Juga: 10 Bahaya Konsumsi Minuman Alkohol Berlebihan dan Cara Berhentinya

Penyebab kejang pada epilepsi

Meskipun penyebab epilepsi biasanya tidak diketahui, faktor-faktor tertentu diketahui dapat memicu kejang pada orang dengan epilepsi. 

Menghindari pemicu ini dapat membantu seseorang penderita epilepsi menghindari kejang:

  • Penggunaan obat yang tidak sesuai dosis
  • Penggunaan alkohol
  • Kokain, ekstasi, atau obat-obatan terlarang lainnya
  • Kurang tidur
  • Obat lain yang mengganggu obat kejang
  • Lampu berkedip, gambar, dan pola berulang dapat menyebabkan kejang pada orang dengan gangguan kejang fotosensitif.
  • Untuk sekitar 1 dari 2 wanita penderita epilepsi, kejang cenderung lebih sering terjadi di sekitar waktu menstruasi. 
  • Mengganti atau menambahkan obat-obatan tertentu sebelum periode menstruasi kemungkinan dapat membantu mengurangi kejang. 

Baca Juga: Tidak Banyak Orang Tahu, Ini Sederet Manfaat Benalu Kopi untuk Kesehatan Tubuh

Apakah epilepsi penyakit keturunan? 

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah epilepsi penyakit keturunan? Nah, jawabannya adalah epilepsi bukan penyakit keturunan. 

Namun, jika dalam anggota keluarga atau saudara kandung ada yang pernah menderita epilepsi, kemungkinan besar anak juga bisa menderita epilepsi meskipun kemungkinannya masih sedikit.

Dikutip dari laman Vinmec International Hospital, ada beberapa jenis epilepsi yang diturunkan dalam keluarga, diturunkan dari generasi ke generasi. Kondisi epilepsi ini bersifat turun-temurun dan diturunkan.

Baca Juga: Tidak Banyak Orang Tahu, Ini Sederet Manfaat Benalu Kopi untuk Kesehatan Tubuh

Namun, ada juga epilepsi yang disebabkan oleh mutasi gen, biasanya yang mengontrol rangsangan sel saraf di otak yang terjadi pertama kali pada seseorang. 

Dalam kasus ini, orang tersebut mungkin tidak memiliki riwayat epilepsi dalam keluarga. Dengan demikian, tidak semua epilepsi disebabkan oleh faktor genetik yang diturunkan dari anggota keluarga. 

Tetapi, para ahli percaya bahwa, dalam banyak kasus, kecenderungan genetik yang dikombinasikan dengan kondisi lingkungan baru menyebabkan epilepsi.

Baca Juga: Nyamuk Culex Sebabkan Radang Otak Japanese Encephalitis: Ini Gejala dan Pengobatannya

Apakah epilepsi menular? 

Epilepsi bukan penyakit menular. Pasalnya, penyebab epilepsi adalah pelepasan listrik berlebihan secara tiba-tiba dari korteks serebral atau melalui korteks kelompok neuron, sehingga menyebabkan disfungsi sistem saraf pusat. 

Sejauh ini, belum ditemukan cara yang menyebabkan epilepsi menular dari orang ke orang.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga mengatakan epilepsi adalah penyakit tidak menular kronis. Jadi, tidak perlu khawatir saat berinteraksi dengan penderita epilepsi. 

Baca Juga: Sering Merasa Ngantuk? Waspadai 7 Penyebab Ngantuk Berlebihan

Apakah epilepsi bisa sembuh? 

Selain itu, ada banyak pertanyaan mengenai apakah epilepsi bisa sembuh. Jawabannya, epilepsi bisa disembuhkan dengan pengobatan dan penanganan yang tepat. 

Dengan pemberian obat yang sesuai, penyakit epilepsi dapat terkontrol dan bahkan bisa sembuh sempurna tanpa harus minum obat lagi. 

Namun, pasien harus ditangani oleh dokter yang tepat, bukan asal sembarang minum obat herbal atau mengambil langkah pengobatan alternatif yang tidak tepat. 

Baca Juga: 7 Manfaat Daun Alpukat yang Jarang Diketahui

Hanya saja, prosedur penyembuhannya memang memerlukan waktu yang tidak sebentar. Penderita epilepsi akan mendapatkan obat rutin berupa Obat Anti Epilepsi (OAE) yang harus diminum setiap hari. 

Pemberian OAE harus rutin, yang boleh mengatur dosis dan menghentikan pemberian obat hanya dokter spesialis saraf. 

Penghentian Obat Anti Epilepsi (OAE) secara bertahap dapat dipertimbangkan setelah 3-5 tahun bebas kejang. OAE dapat dihentikan tanpa kekambuhan pada 60% pasien.

Dalam hal penghentian OAE, maka ada dua hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu syarat umum untuk menghentikan OAE dan kemungkinan kambuhnya bangkitan atau kejang setelah OAE dihentikan. 

Baca Juga: Simak Syarat Donor Darah PMI: Cara Daftarnya dan Kondisi Tidak Boleh Donor Darah

Menurut pedoman tatalaksana epilepsi yang dibuat oleh PERDOSSI, syarat umum untuk menghentikan pemberian OAE adalah sebagai berikut :

  • Setelah minimal tiga tahun bebas kejang dan gambaran EEG normal.
  • Penghentian OAE disetujui oleh pasien dan keluarganya.
  • Harus dilakukan secara bertahap, 25 % dari dosis semula setiap bulan dalam jangka waktu 3-6 bulan.
  • Bila digunakan lebih dari 1 (satu) OAE, maka penghentian dimulai dari OAE yang bukan utama.

Demikian penjelasan mengenai arti epilepsi, apakah epilepsi penyakit keturunan, apakah epilepsi menular, dan apakah epilepsi bisa sembuh.

Selanjutnya: Sinopsis Pasutri Gaje, Nonton Film Indonesia Terbaru Adaptasi Webtoon di Bioskop

Menarik Dibaca: Ekonomi Dunia Ambruk, Robert Kiyosaki Peringatkan untuk Beli 3 Aset Investasi Ini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

×