kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.631.000   29.000   1,11%
  • USD/IDR 16.870   0,00   0,00%
  • IDX 8.885   -52,03   -0,58%
  • KOMPAS100 1.226   -2,75   -0,22%
  • LQ45 867   -1,47   -0,17%
  • ISSI 324   0,11   0,04%
  • IDX30 441   1,22   0,28%
  • IDXHIDIV20 520   3,38   0,65%
  • IDX80 136   -0,29   -0,21%
  • IDXV30 144   0,32   0,22%
  • IDXQ30 142   1,10   0,79%
AKTUAL /

Belanja Negara Meledak: Citigroup Ramal Defisit 2026 Tembus 3,5% PDB


Selasa, 13 Januari 2026 / 04:08 WIB
Belanja Negara Meledak: Citigroup Ramal Defisit 2026 Tembus 3,5% PDB
ILUSTRASI. Lonjakan defisit APBN 2026 didorong belanja besar program MBG dan pascabanjir Sumatra. Simak implikasi terhadap kredibilitas fiskal Indonesia. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Citigroup memproyeksikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia pada 2026 berpotensi meningkat signifikan hingga menembus 3,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Proyeksi ini jauh lebih tinggi dibandingkan perkiraan awal yang berada di kisaran 2,7% PDB.

Perkiraan tersebut mengindikasikan adanya risiko pelanggaran batas defisit maksimal 3% dari PDB sebagaimana diatur dalam kerangka fiskal nasional yang selama ini menjadi jangkar disiplin fiskal Indonesia.

“Citigroup memperkirakan defisit APBN 2026 bisa naik ke 3,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih tinggi dari proyeksi awal 2,7%,” tulis laporan Citi yang dikutip pada Senin (12/1/2026).

Citi menilai peningkatan defisit fiskal tersebut terutama dipicu oleh lonjakan belanja pemerintah. Beberapa faktor utama di antaranya adalah pembiayaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berskala besar, serta meningkatnya kebutuhan anggaran untuk rekonstruksi dan pemulihan pascabanjir di sejumlah wilayah Sumatra.

Selain lonjakan belanja, kombinasi kebijakan fiskal yang ekspansif dan kinerja penerimaan negara yang belum sepenuhnya pulih turut mempersempit ruang fiskal pemerintah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap keberlanjutan fiskal dalam jangka menengah.

Baca Juga: Bukan Cuma BLT: Ini Daftar Lengkap Bantuan Pekerja Hingga 2026

Maklum, posisi defisit fiskal Indonesia pada akhir 2025 telah mencapai sekitar 2,9% terhadap PDB. Angka ini merupakan level tertinggi di luar masa pandemi dalam dua dekade terakhir, yang dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi serta penerimaan pajak yang cenderung melemah.

Dalam situasi tersebut, Citi menilai pemerintah memiliki dua opsi kebijakan utama untuk menjaga kredibilitas fiskal. Opsi pertama adalah merevisi aturan batas defisit fiskal yang selama ini dibatasi maksimal 3% dari PDB. Opsi kedua adalah melakukan penyesuaian atau pemangkasan belanja secara signifikan.

“Implikasinya ke depan, pemerintah bisa merevisi aturan batas defisit, atau melakukan pemangkasan belanja besar-besaran,” tulis laporan Citi.

Dari sisi pembiayaan, Citi juga memproyeksikan rasio utang pemerintah terhadap PDB akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Rasio utang diperkirakan naik ke kisaran 42% pada 2029, dibandingkan sekitar 39% pada 2025.

Tonton: OTT KPK di DJP, Ditjen Pajak Minta Maaf dan Janji Perkuat Integritas

Meski rasio tersebut masih berada pada level yang relatif terkendali, peningkatan utang mencerminkan tekanan fiskal yang kian besar seiring tingginya kebutuhan belanja pemerintah di tengah tantangan pertumbuhan ekonomi dan optimalisasi penerimaan negara.

Selanjutnya: Pelapor SPT & Aktivasi Coretax Meningkat, Begini Cara Lapor SPT Coretax Tanpa Ribet

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

×