kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45900,82   11,02   1.24%
  • EMAS1.333.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%
AKTUAL /

Biografi Kyai Haji Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah dan Pejuang Pendidikan Pribumi


Jumat, 17 November 2023 / 10:03 WIB
Biografi Kyai Haji Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah dan Pejuang Pendidikan Pribumi
ILUSTRASI. Biografi Kyai Haji Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah.

Penulis: Virdita Ratriani

KONTAN.CO.ID -  Milad ke-111 tahun Muhammadiyah akan jatuh pada Sabtu, 18 November 2023. Biografi Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah pun bisa disimak menjelang peringatan hari lahir organisasi Islam tersebut. 

Lahirnya organisasi Muhammadiyah berawal dari KH. Ahmad Dahlan yang ingin melakukan pembaruan di Tanah Air. 

Setelah banyak berdiskusi dengan kawan-kawannya, termasuk anggota Boedi Oetomo, KH. Ahmad Dahlan mendapat usulan untuk mendirikan sebuah organisasi yang bisa menjadi wadah aktualisasi pikiran-pikiran pembaruan sang kyai.

Lantas, seperti apa biografi Kyai Haji Ahmad Dahlan? 

Baca Juga: Milad ke-111 Muhammadiyah: Ini Sejarah Muhammadiyah yang Didirikan KH Ahmad Dahlan

Biografi Kyai Haji Ahmad Dahlan

Biografi Kyai Haji Ahmad Dahlan, Pendiri Muhammadiyah

K.H. Ahmad Dahlan adalah anak keempat dari tujuh bersaudara, putra dari K.H. Abu Bakar bin Kiai Sulaiman dan Siti Aminah binti almarhum K.H. Ibrahim.

Ayahnya seorang khatib tetap Masjid Agung Yogyakarta dan merupakan keturunan dari Maulana Malik Ibrahim, salah satu Walisongo yang menjadi pelopor penyebaran Islam di Jawa. 

Sedangkan ibunya adalah putri dari Penghulu Besar di Yogyakarta. K.H. Ahmad Dahlan lahir di Kauman, Yogyakarta, tahun 1869. 

Sebelum ia mendapat gelar dan nama K.H. Ahmad Dahlan, nama yang diberikan orangtuanya adalah Muhammad Darwis. 

Nama K.H. Ahmad Dahlan, ia peroleh dari para Kiai setelah ia selesai menunaikan ibadah haji. KH Ahmad Dahlan menunaikan ibadah haji saat berusia 15 tahun dan tinggal selama lima tahun di Mekkah. 

Baca Juga: 25 Ucapan Milad ke-111 Muhammadiyah 18 November 2023, Yuk Ramaikan di Sosmed!

Dirangkum dari laman Gramedia, pada lima tahun tersebut, Ahmad Dahlan pun mulai berinteraksi dengan para pemikir pembaharu dalam agama Islam, seperti Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Al Afghani, hingga Ibnu Taimiyah. 

Seusai pulang dari Mekkah pada 1888, ia kemudian mengganti namanya menjadi Ahmad Dahlan. Lalu pada tahun 1903, Ahmad Dahlan pun kembali ke Mekkah dan menetap di sana selama dua tahun. 

Ketika ia kembali ke Mekkah untuk kedua kalinya, Ahmad Dahlan pun memiliki kesempatan untuk berguru kepada Syekh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri Nahdlatul Ulama yaitu KH Hasyim Asyari.

Setelah pulang dari Mekkah, Ahmad Dahlan menikah dengan Siti Walidah yaitu sepupunya sendiri dan anak dari kiai Penghulu Haji Fadhil. 

Baca Juga: Tema dan Twibbon Milad ke-111 Muhammadiyah 18 November 2023, Yuk Ramaikan di Sosmed!

Lalu, Siti Walidah dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan serta pendiri dari Aisyiyah. Ahmad Dahlan bersama Siti Walidah memiliki enam anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah dan Siti Zaharah. 

Ahmad Dahlan juga menikahi Nya Abdullah yaitu seorang janda dari H. Abdullah. Ia juga diketahui pernah menikah dengan Nyai Rum yaitu adik dari Kiai Munawwir Krapayak serta menikahi Nyai Aisyah Cianjur yaitu adik dari Adjengan Penghulu. 

Dari perkawinannya dengan Nyai Aisyah tersebut, Ahmad Dahlan memiliki anak bernama Dandanah.

KH Ahmad Dahlan menutup usia 54 tahun pada tahun 1923 dan ia dimakamkan di pemakaman Karangkajen di Yogyakarta.

Baca Juga: Rekomendasi 7 Film Indonesia Tontonan di Perayaaan Hari Pahlawan Nasional, Apa Saja?

Mendirikan Muhammadiyah

Sejarah Muhammadiyah

Pada 1912, KH Ahmad Dahlan mendirikan sebuah organisasi bernama Muhammadiyah. Ahmad Dahlan ingin ada pembaruan terhadap cara berpikir maupun beramal masyarakat, namun tetap sesuai dengan tuntunan agama Islam.

Ia ingin mengajak umat Islam di Indonesia untuk kembali hidup sesuai dengan tuntunan yang ada dalam Al Quran maupun Hadits. 

Oleh karena itu, sejak awal berdiri, Ahmad Dahlan menegaskan bahwa Muhammadiyah bukanlah organisasi yang memiliki sifat politik, akan tetapi bersifat sosial serta bergerak dalam bidang pendidikan.

Dirangkum dari laman resmi Muhammadiyah, Ahmad Dahlan juga memiliki perhatian besar dalam pendidikan dan ingin menyatukan pendidikan agama dan sains Barat yang dinamakan sistem madrasah. 

Baca Juga: 46 Twibbon Milad Aisyiyah ke-106 Terbaru, Cocok Dibagikan pada 19 Mei 2023

Namun sebelum mendirikan sekolah itu, guru-gurunya berpesan agar Kiai Dahlan mendirikan sebuah organisasi permanen yang menaunginya terlebih dahulu.

Organisasi tersebut berdiri untuk menghindari nasib banyak pesantren yang berhenti beroperasi setelah tokoh pemilik atau pemimpinnya wafat. 

Maka, pada 1909 Kiai Ahmad Dahlan pun bergabung dengan Budi Utomo (BU) untuk mempelajari sistem organisasi dan sistem tata kelola manajemen.

Meski mendapatkan banyak dukungan, namun banyak pihak yang memfitnah Ahmad Dahlan. Ia sempat dituduh akan mendirikan agama baru dan menyalahi ajaran Islam serta sosok kyai palsu. 

Baca Juga: Kumpulan Twibbon Milad Aisyiyah 2023 ke-106 Tahun, Pakai Fotonya Yuk

Bahkan ada pula beberapa orang yang hendak membunuh Ahmad Dahlan saat itu. Namun, Ahmad Dahlan tetap berjuang membentuk Muhammadiyah. 

Pada 20 Desember 1912, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan untuk mendapatkan badan hukum kepada pemerintah Hindia Belanda. Permohonan tersebut, baru dikabulkan oleh pemerintah pada tahun 1914. 

Izin tersebut, juga hanya berlaku untuk daerah Yogyakarta, serta Muhammadiyah hanya boleh bergerak di daerah perizinan saja yaitu Yogyakarta.

Pembatasan gerak Muhammadiyah ini dikarenakan pemerintah Hindia Belanda saat itu khawatir, bahwa organisasi yang diusung oleh Ahmad Dahlan akan berkembang. 

Meskipun gerakannya dibatasi, akan tetapi daerah-daerah lain seperti Imogiri, Wonosari hingga Srandakan telah mendirikan kantor cabang Muhammadiyah.

Baca Juga: Download Logo Aisyiyah PNG Resmi Lengkap Beserta Logo Milad Aisyiyah ke-106

Namun, dengan nama yang berbeda, seperti nama Nurul Islam di Pekalongan, nama Al Munir di Ujung Pandang dan Ahmadiyah di Garut. 

Pada 7 Mei 1921, Ahmad Dahlan mengajukan permohonan kembali kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan cabang Muhammdiyah di kota-kota lain selain Yogyakarta.

Pada 2 September 1921, pemerintah Hindia Belanda akhirnya menyetujui permohonan tersebut. Kini, Muhammadiyah yang merayakan milad ke-111 pun telah berkembang menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. 

Demikian biograi Kyai Haji Ahmad Dahlan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

×