kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%
AKTUAL /

Bukan Fiskal, Inilah Faktor Utama yang Menekan Rupiah & Cadev RI


Senin, 06 April 2026 / 03:49 WIB
Bukan Fiskal, Inilah Faktor Utama yang Menekan Rupiah & Cadev RI
ILUSTRASI. Pelemahan rupiah bukan karena fiskal, tapi faktor global dan kebutuhan impor. Kalkulasi terbaru tunjukkan penyebab utama mata uang melemah. (TRIBUNNEWS/Jeprima)

Reporter: Siti Masitoh | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Pelemahan nilai tukar rupiah yang disertai penurunan cadangan devisa (cadev) dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor global, terutama lonjakan harga minyak dunia dan arus modal keluar (capital outflow).

Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto mengatakan tekanan terhadap rupiah saat ini tidak semata-mata berasal dari faktor domestik seperti fiskal, tetapi lebih dipicu dinamika eksternal yang memburuk.

“Kalau kita lihat pelemahan rupiah sebenarnya bukan hanya karena serta merta dari faktor fiskal saja, tapi terkait dengan trend penguatan dollar AS akibat capital outflow untuk melakukan risk averse,” tutur Myrdal kepada Kontan, Minggu (5/4/2026).

Menurutnya, kondisi global yang tidak kondusif akibat konflik geopolitik serta lonjakan harga minyak dunia mendorong investor asing menarik dananya dari pasar keuangan domestik. Situasi ini memperkuat tren penguatan dolar AS, yang pada akhirnya menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Selain itu, tekanan juga datang dari keluarnya dana jangka pendek (hot money outflow). Sentimen dari lembaga rating global maupun indeks investasi seperti MSCI, Fitch, dan Moody’s turut memengaruhi persepsi risiko investor terhadap pasar Indonesia.

Baca Juga: Hadapi El Nino, Stok Cadangan Beras Nasional di Level Tertinggi Sepanjang Sejarah

Meski begitu, Myrdal menilai faktor tersebut tidak sedahsyat kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyak dunia, mengingat Indonesia masih berstatus sebagai net oil importer.

“Tapi sebenarnya dampak ini tidak sedahsyat kekhawatiran investor terkait kondisi harga minyak dunia yang melambung tinggi, serta posisi Indonesia sebagai net oil importer,” ungkapnya.

Di sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh meningkatnya kebutuhan dolar AS. Permintaan valas naik seiring kebutuhan impor, terutama untuk BBM dan bahan baku industri, di tengah aktivitas ekonomi yang masih bertumbuh.

Hal ini tercermin dari PMI manufaktur yang masih berada di zona ekspansif hingga Maret, meskipun sedikit melandai dibanding bulan sebelumnya.

“Lalu pelemahan rupiah juga disebabkan oleh permintaan dolar untuk kebutuhan impor terutama impor untuk BBM dan itu kelihatan dari PMI Manufacturing Index, masih relatif ekspansif,” jelasnya.

Selain kebutuhan impor, permintaan valas juga meningkat untuk pembayaran dividen serta kewajiban utang luar negeri. Kombinasi faktor tersebut membuat tekanan di pasar valuta asing semakin besar dan sumbernya semakin beragam.

Kondisi ini juga berkontribusi terhadap penurunan cadangan devisa, seiring intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas rupiah.

Tonton: 10,6 Juta Wajib Pajak Sudah Lapor SPT 2025, Coretax Tembus 17,6 Juta Akun

“Dan perlu kita lihat intervensi dari BI terus dilakukan di pasar spot, NDF, swap valas juga lelang SRBI, SVBI, maupun SUVBI,” tambahnya.

Myrdal menilai langkah-langkah BI tersebut merupakan bagian dari strategi untuk meredam volatilitas dan mengelola risiko, bukan semata-mata untuk menutup kelemahan fiskal.

BI juga memperkuat kebijakan melalui instrumen suku bunga yang tetap atraktif, serta kebijakan valas seperti pengetatan aturan underlying dan peningkatan batas transaksi swap maupun forward.

Di sisi lain, tekanan eksternal juga tercermin dari meningkatnya defisit transaksi berjalan serta arus keluar pada neraca finansial. Kondisi ini berpotensi membuat neraca pembayaran (balance of payment) berada dalam posisi negatif pada kuartal I dan II.

Sementara itu, pemerintah tetap menjalankan peran fiskal sebagai shock absorber, antara lain dengan menahan kenaikan harga BBM serta mengoptimalkan pembiayaan melalui lelang surat utang negara dengan strategi front loading.

Dalam jangka pendek, Myrdal memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan berada dalam tekanan, dengan kisaran Rp16.850 hingga Rp16.900 per dolar AS.

Adapun cadangan devisa diperkirakan masih berpotensi menurun dalam waktu dekat, seiring kebutuhan stabilisasi nilai tukar dan tingginya permintaan dolar di pasar domestik.

Baca Juga: ASN WFH Setiap Jumat Diawasi Geo-Location: Tak Boleh Jadi Long Weekend

Namun peluang penguatan rupiah tetap terbuka apabila sentimen global membaik. Jika konflik geopolitik mereda dan harga minyak kembali stabil, arus modal asing berpotensi kembali masuk ke pasar keuangan domestik.

Dalam kondisi tersebut, rupiah diperkirakan dapat menguat hingga di bawah level Rp16.800 per dolar AS, sekaligus mendorong stabilisasi cadangan devisa ke depan.

“Harapannya, jika konflik di Iran mereda atau Selat Hormuz kembali dibuka, rupiah seharusnya bisa menguat ke level di bawah Rp16.800 per dolar AS,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

×