Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual memproyeksikan posisi cadangan devisa Indonesia (cadev) pada Desember 2025 akan meningkat dibandingkan posisi November sebelumnya yang tercatat sebesar US$150,1 miliar.
Menurut David, meskipun surplus neraca perdagangan Indonesia mengalami penyusutan secara tahunan (year on year/yoy) pada November 2025 menjadi US$2,66 miliar, serta Bank Indonesia (BI) masih aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, terdapat sejumlah faktor fundamental yang menopang kenaikan cadangan devisa.
“Surplus dagang memang menyusut dan ada kebutuhan intervensi BI untuk stabilitas rupiah. Namun di sisi lain, masih terdapat capital inflow yang cukup kuat dari instrumen portofolio seperti saham, Surat Utang Negara (SUN), serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI),” ujar David kepada Kontan, Rabu (7/1/2026).
Baca Juga: Surplus Dagang RI Tembus US$ 2,66 Miliar! Nonmigas Jadi Mesin Utama Ekspor
Selain aliran modal asing, David juga menyoroti faktor musiman di akhir tahun yang turut berkontribusi terhadap penguatan cadangan devisa. Pada periode tersebut, eksportir umumnya melakukan repatriasi devisa hasil ekspor, khususnya untuk memenuhi kewajiban pembayaran royalti sumber daya alam serta kebutuhan operasional dalam negeri.
Dengan kombinasi capital inflow portofolio dan repatriasi devisa hasil ekspor, David menilai posisi cadangan devisa Indonesia pada Desember 2025 akan tetap terjaga bahkan berpotensi meningkat. Kondisi ini dinilai penting untuk memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika global.
Tonton: ESDM Jelaskan Alasan Relaksasi RKAB 2026, Produksi Tambang Dibatasi 25% hingga Maret
Kesimpulan
Cadangan devisa Indonesia diproyeksikan tetap terjaga bahkan berpotensi meningkat pada Desember 2025 meskipun surplus neraca perdagangan menyusut dan Bank Indonesia masih melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah. Kenaikan tersebut ditopang oleh masuknya aliran modal asing ke instrumen portofolio seperti saham, SUN, dan SRBI, serta faktor musiman berupa repatriasi devisa hasil ekspor di akhir tahun, sehingga memberikan bantalan bagi ketahanan eksternal dan stabilitas nilai tukar, meski dengan catatan ketergantungan yang lebih besar pada arus modal yang cenderung volatil.
Selanjutnya: Proyek Seret, Kredit Sindikasi Makin Tersenda
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













