kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.916.000   4.000   0,14%
  • USD/IDR 16.918   17,00   0,10%
  • IDX 8.274   -36,15   -0,43%
  • KOMPAS100 1.163   -5,91   -0,51%
  • LQ45 834   -4,25   -0,51%
  • ISSI 296   -0,45   -0,15%
  • IDX30 437   -1,48   -0,34%
  • IDXHIDIV20 520   -5,14   -0,98%
  • IDX80 130   -0,58   -0,44%
  • IDXV30 144   0,34   0,24%
  • IDXQ30 140   -1,50   -1,06%
AKTUAL /

Fakta Aneh Rupiah: Fundamental Kuat Tapi Justru 'Undervalued', Cek Penjelasan BI!


Jumat, 20 Februari 2026 / 02:00 WIB
Fakta Aneh Rupiah: Fundamental Kuat Tapi Justru 'Undervalued', Cek Penjelasan BI!
ILUSTRASI. Aneh tapi nyata: Rupiah 'undervalued' di tengah fundamental ekonomi RI yang solid. Gubernur BI Perry Warjiyo jelaskan faktor teknikalnya. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

Reporter: Siti Masitoh | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Bank Indonesia (BI) menilai nilai tukar rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamental ekonomi (undervalued). Kondisi tersebut dinilai lebih dipengaruhi oleh faktor teknikal dan peningkatan premi risiko global, meskipun indikator fundamental domestik menunjukkan kinerja yang solid.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, secara fundamental pergerakan rupiah seharusnya lebih stabil dan cenderung menguat. Hal ini tercermin dari inflasi yang tetap terjaga, pertumbuhan ekonomi yang baik, serta imbal hasil instrumen keuangan domestik yang masih kompetitif di tengah dinamika global.

Namun demikian, tekanan jangka pendek terhadap rupiah masih muncul akibat faktor eksternal, terutama ketidakpastian global yang meningkatkan premi risiko di pasar keuangan internasional. Faktor teknikal inilah yang dinilai menjadi penyebab utama nilai tukar belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia.

“Pertanyaannya tentu saja faktor-faktor teknikal, faktor-faktor premi risiko yang khususnya terjadi di global memang kelihatan faktor-faktor ini yang memang menimbulkan tekanan-tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar,” ujar Perry dalam konferensi pers, Kamis (19/2/2026).

Per 18 Februari 2026, nilai tukar rupiah tercatat Rp16.880 per dolar AS, melemah 0,56% point to point (ptp) dibandingkan level akhir Januari 2026.

Baca Juga: Tarif Ekspor 19%: Benarkah Untungkan Produk RI?

Strategi BI Jaga Stabilitas Rupiah

Sebagai respons, BI meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Kebijakan ini ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendukung stabilitas sistem keuangan nasional.

Selain intervensi valas, BI juga mengoptimalkan instrumen moneter guna menarik aliran masuk investasi portofolio asing. Penempatan dana asing pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan tren peningkatan dalam dua bulan terakhir.

Data setelmen hingga 18 Februari 2026 mencatat inflow pada SRBI mencapai sekitar Rp31 triliun dan pada SBN sekitar Rp530 miliar. Secara year to date (ytd), aliran masuk modal asing tercatat sekitar US$ 1,6 miliar.

Masuknya dana asing tersebut turut menopang stabilitas rupiah, di tengah likuiditas domestik yang tetap memadai sebagaimana tercermin dari pertumbuhan uang primer yang masih berada di level dua digit.

“Dan tentu saja ini terus kita lakukan bahwa dengan keyakinan ke depan nilai tukarnya akan stabil dan cenderung menguat mengarah kepada fundamental,” tegas Perry.

Baca Juga: Ekonomi RI Berpotensi Meroket, Ini Syarat dari IMF

Pendalaman Pasar Valas dan Transaksi Lokal Mata Uang

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan, otoritas moneter juga terus memperdalam pasar valuta asing domestik. Salah satu langkah strategisnya adalah pengembangan transaksi rupiah dengan mata uang China (CNY/CNH) guna mendukung perdagangan bilateral dengan Tiongkok.

Upaya ini dilakukan agar transaksi perdagangan tidak seluruhnya bergantung pada dolar AS, seiring dengan meningkatnya implementasi Local Currency Transaction (LCT).

Hingga Desember 2025, nilai transaksi dengan China dalam skema LCT terus meningkat. Dalam satu bulan, nilai transaksi LCT dengan China tercatat mencapai US$2,7 juta.

Tonton: Perry Ungkap Peluang BI Rate Turun, Investor Wajib Siap-Siap!

Menurut Destry, peningkatan inflow ke instrumen pasar uang domestik dan diversifikasi transaksi mata uang akan memberikan kontribusi positif terhadap stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.

Selanjutnya: Rupiah Bikin IHSG Tak Berdaya

Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Kota Jakarta Barat Sebulan Penuh, Ini Detailnya!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag

TERBARU
Terpopuler
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

×