kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.878.000   -40.000   -1,37%
  • USD/IDR 16.901   42,00   0,25%
  • IDX 8.310   97,96   1,19%
  • KOMPAS100 1.169   11,37   0,98%
  • LQ45 839   8,86   1,07%
  • ISSI 297   2,12   0,72%
  • IDX30 438   6,14   1,42%
  • IDXHIDIV20 525   8,40   1,63%
  • IDX80 130   1,09   0,85%
  • IDXV30 143   1,04   0,73%
  • IDXQ30 141   2,01   1,45%
AKTUAL /

Tarif Ekspor 19%: Benarkah Untungkan Produk RI?


Kamis, 19 Februari 2026 / 03:56 WIB
Tarif Ekspor 19%: Benarkah Untungkan Produk RI?
ILUSTRASI. Penurunan tarif ekspor Indonesia ke AS menjadi 19% ternyata belum tentu jadi keuntungan. Ada faktor lain yang justru membebani produk RI. (ANTARA FOTO/Andry Denisah)

Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dijadwalkan meneken draf kesepakatan tarif resiprokal pada Kamis (19/2/2026).

Dalam negosiasi akhir, Indonesia memperoleh penurunan tarif impor AS menjadi 19%, dari sebelumnya ditetapkan sebesar 32%.

Meski demikian, ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai penurunan tarif tersebut belum tentu membuat produk Indonesia lebih kompetitif di pasar global.

Tarif 19% Dinilai Belum Cukup Dongkrak Daya Saing

Menurut Yusuf, secara nominal tarif resiprokal Indonesia memang terlihat setara atau sedikit lebih baik dibandingkan negara pesaing seperti Vietnam, Malaysia, dan Filipina.

Namun, jika melihat total hambatan perdagangan yang dihadapi produk Indonesia, tekanan tetap tergolong tinggi.

"Memang, di atas kertas tarif resiprokal Indonesia terlihat setara atau sedikit lebih baik dibanding negara seperti Vietnam, Malaysia, atau Filipina, tetapi ketika kita melihat tarif total produk Indonesia tetap menghadapi hambatan yang tinggi," kata Yusuf kepada Kontan.co.id, Rabu (18/2/2026).

Sebagai contoh, industri alas kaki Indonesia menghadapi beban tarif impor total hingga 31%. Angka ini relatif setara dengan Vietnam dan Malaysia.

Baca Juga: Pemerintah Tolak Mentah Usulan IMF Naikkan PPh Karyawan, Ini Alasannya

Biaya Logistik dan Upah Jadi Tantangan

Yusuf menyoroti bahwa persoalan utama bukan hanya tarif, tetapi juga struktur biaya domestik yang masih tinggi.

Biaya logistik Indonesia disebut mencapai sekitar 23,5% dari PDB. Selain itu, biaya tenaga kerja manufaktur juga dinilai lebih tinggi dibandingkan Vietnam.

"Dengan struktur biaya seperti ini, meskipun tarifnya sama, harga akhir produk Indonesia akan cenderung lebih mahal, sehingga pembeli global memiliki insentif kuat untuk beralih ke negara lain yang lebih efisien," jelasnya.

Potensi Ekspor Turun hingga US$ 9 Miliar

Sejumlah sektor unggulan ekspor Indonesia ke AS diperkirakan akan terdampak signifikan.

Yusuf memprediksi industri tekstil dan pakaian jadi akan mengalami penurunan ekspor terbesar, diikuti sektor alas kaki dan elektronik.

Secara keseluruhan, potensi penurunan ekspor Indonesia ke AS diperkirakan dapat mencapai US$ 9 miliar.

Tonton: Dana Desa Dipangkas 58% Demi Kopdes Merah Putih, Ini Kata Pengamat

Tekanan Ganda bagi Industri Dalam Negeri

Selain menyepakati tarif 19%, pemerintah juga membuka kemudahan ekspor bagi produk AS ke pasar domestik Indonesia.

Kondisi ini dinilai dapat menimbulkan tekanan ganda bagi industri dalam negeri: kehilangan daya saing di pasar ekspor sekaligus menghadapi persaingan yang lebih ketat di pasar domestik.

"Industri dalam negeri menghadapi tekanan ganda: di satu sisi mereka kehilangan daya saing di pasar ekspor, dan di sisi lain mereka harus bersaing langsung dengan produk impor di pasar domestik yang kini lebih terbuka," ungkap Yusuf.

Kesepakatan tarif resiprokal ini menjadi babak baru hubungan dagang Indonesia-AS, namun tantangan daya saing struktural tetap menjadi pekerjaan rumah besar bagi perekonomian nasional.

Selanjutnya: Usai Libur Imlek, Kapan Libur Panjang Lagi? Ini Jadwal Tanggal Merah & Cuti Bersama

Menarik Dibaca: Warga Batang Wajib Tahu Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2026 Lengkap Resmi Kemenag

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

×