Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Realisasi investasi Indonesia pada kuartal I-2026 diproyeksikan tetap tumbuh, namun lajunya diperkirakan melambat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perlambatan ini mencerminkan sikap hati-hati investor, terutama investor asing, yang masih memilih strategi wait and see di tengah ketidakpastian global.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani memperkirakan realisasi investasi pada kuartal pertama tahun ini mencapai sekitar Rp 497 triliun.
Namun, angka tersebut diproyeksikan hanya tumbuh sekitar 7% secara tahunan (year on year/yoy). Capaian ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan investasi pada kuartal I-2025 yang mampu mencapai 15,6% yoy.
Pertumbuhan Investasi Melambat, Dipengaruhi Faktor Global
Staf Bidang Ekonomi, Industri dan Global Markets dari Bank Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai perlambatan pertumbuhan investasi tersebut tidak lepas dari kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.
Menurutnya, tensi geopolitik internasional membuat investor asing cenderung menahan ekspansi investasinya, termasuk ke Indonesia.
"Ini dipengaruhi oleh faktor global yang membuat agresivitas investor asing untuk masuk ke investasi Indonesia agak tertahan. Tensi geopolitik global yang tinggi, ditambah lagi juga dari sisi investor juga banyak yang melakukan wait and see," ujar Myrdal kepada Kontan, Senin (13/4/2026).
Baca Juga: Ekonomi RI Terancam! Kelas Menengah Bawah Susut 11 Juta Orang
Ia menambahkan bahwa kondisi ini tercermin jelas jika dibandingkan dengan kinerja pertumbuhan investasi pada kuartal pertama tahun ini terhadap periode yang sama tahun lalu.
Program Pemerintah Jadi Penahan Perlambatan Investasi
Meski investor asing masih berhati-hati, Myrdal menilai pemerintah masih memiliki peran besar dalam menjaga momentum investasi domestik melalui berbagai program pembangunan prioritas.
Beberapa program yang dinilai bisa menjadi pendorong investasi di antaranya:
- pembangunan fasilitas dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG)
- investasi pemerintah pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)
- pengembangan Koperasi Desa Merah Putih
Selain itu, agenda besar pemerintah seperti kemandirian energi dan kemandirian pangan juga dinilai dapat mendorong aktivitas investasi di dalam negeri sepanjang tahun 2026.
Investor Asing Masih Minat, Tapi Menunggu Momentum Stabil
Dari sisi investor asing, Myrdal menilai daya tarik Indonesia masih cukup kuat. Hal ini terlihat dari sejumlah komitmen kerja sama investasi yang dibawa dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang, yang menghasilkan beberapa nota kesepahaman bernilai besar dengan pelaku usaha setempat.
Menurutnya, komitmen tersebut menjadi sinyal bahwa minat investasi ke Indonesia masih terjaga, terutama jika kondisi global kembali stabil.
"Jadi secara tidak langsung ini menjadi sinyal kalau daya tarik investasi kita itu masih ada," katanya.
Pemerintah Dorong Efisiensi Investasi, ICOR Jadi Sorotan
Selain faktor eksternal, Myrdal juga menyoroti langkah pemerintah yang tengah mendorong kebijakan pembentukan satuan tugas (satgas) untuk memperbaiki kinerja investasi nasional.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi investasi dan menurunkan incremental capital output ratio (ICOR) Indonesia, yang selama ini sering menjadi indikator efisiensi investasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Tonton: Negosiasi AS-Iran Gagal, Rupiah Melemah dan Risiko Defisit APBN Melebar
Faktor Musiman Ramadan Turut Menahan Realisasi
Di sisi lain, Myrdal menilai realisasi investasi pada awal tahun juga dipengaruhi faktor musiman. Ramadan menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian investor menunda realisasi investasi karena menunggu momentum setelah Lebaran.
Dengan kombinasi tekanan eksternal dan faktor musiman, perlambatan pertumbuhan investasi kuartal I-2026 menjadi sinyal bahwa pemerintah perlu memperkuat daya saing investasi, sekaligus menjaga kepercayaan investor asing agar kembali agresif ketika situasi global lebih kondusif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












