Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Momentum konsumsi selama periode Ramadan-Lebaran diperkirakan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026. Meski demikian, dorongan konsumsi tersebut dinilai hanya bersifat sementara dan belum mencerminkan pemulihan daya beli masyarakat yang benar-benar kuat.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai lonjakan konsumsi saat Lebaran akan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Terutama melalui konsumsi rumah tangga yang masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB).
Pemerintah sendiri memproyeksikan konsumsi selama Lebaran meningkat sekitar 10%–15% secara tahunan. Namun, Rizal mengingatkan bahwa kenaikan tersebut lebih banyak dipengaruhi faktor musiman.
“Secara nominal kenaikannya masih plausible, tetapi perlu dilihat sebagai efek musiman, bukan sinyal pemulihan daya beli yang solid,” ujarnya kepada Kontan, Senin (30/3/2026).
Ia menjelaskan, lonjakan konsumsi Lebaran umumnya ditopang oleh injeksi likuiditas sementara. Misalnya, pencairan tunjangan hari raya (THR), bantuan sosial (bansos), hingga meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang dan saat hari raya.
Baca Juga: Ekonomi RI Terancam Melambat Akibat WFH Massal di Kuartal II-2026?
Dengan karakter seperti itu, pola konsumsi cenderung terkonsentrasi pada awal periode atau bersifat front-loaded, sehingga dampaknya tidak berlangsung panjang.
Di sisi lain, sejumlah indikator fundamental konsumsi justru menunjukkan sinyal pelemahan. Rizal menyebut Average Propensity to Consume (APC) tercatat turun ke sekitar 72%. Selain itu, penjualan ritel juga mengalami moderasi.
Kondisi tersebut menunjukkan rumah tangga semakin berhati-hati dalam membelanjakan uangnya, meskipun aktivitas belanja meningkat saat momentum Lebaran.
Dengan demikian, konsumsi Lebaran dinilai hanya menjadi penopang sementara yang berpotensi mengalami normalisasi cukup tajam setelah periode hari raya berakhir.
Meski begitu, Rizal tetap memperkirakan efek Lebaran akan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026.
"Dengan akselerasi belanja pemerintah di awal tahun serta stimulus musiman, pertumbuhan kemungkinan berada di kisaran 5,0%–5,2% (yoy)," ungkap Rizal.
Namun, ia menekankan bahwa dorongan tersebut belum cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan di atas level 5%.
Tonton: Profil Samin Tan, Orang Terkaya RI yang Tersandung Kasus Korupsi
“Tanpa dukungan faktor lain, efeknya tidak cukup kuat untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi secara struktural,” jelasnya.
Menurut Rizal, tantangan utama masih datang dari sektor investasi dan ekspor yang menghadapi tekanan eksternal. Akibatnya, struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada konsumsi domestik.
Ketergantungan tersebut membuat laju pertumbuhan ekonomi cenderung tertahan di sekitar 5% dan sulit mengalami akselerasi lebih tinggi dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













