Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Meningkatnya tensi geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) berpotensi memberi tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia serta memicu arus keluar modal asing (capital outflow), khususnya dari investor portofolio jangka pendek.
Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai memanasnya konflik di Timur Tengah membuat investor global cenderung menghindari aset berisiko (risk averse), termasuk di negara berkembang seperti Indonesia.
“Tentu pressure-nya cukup kuat di pasar keuangan kita karena status kita adalah emerging market yang relatif rentan terhadap aksi risk averse saat kondisi global kurang kondusif,” ujar Myrdal kepada Kontan, Selasa (2/3/2026).
Menurutnya, jika eskalasi konflik terus meningkat, dampaknya akan kurang positif bagi pasar keuangan domestik. Investor global umumnya mengurangi eksposur pada aset berisiko ketika ketidakpastian meningkat.
Baca Juga: Manipulator Saham Terancam: OJK Punya Sistem Deteksi Saham Gorengan Real Time
Tekanan ke Saham, SBN, dan Rupiah
Myrdal menjelaskan, tekanan berpotensi terjadi di sejumlah instrumen domestik, antara lain:
- Pasar saham
- Pasar Surat Berharga Negara (SBN)
- Nilai tukar rupiah
Tekanan tersebut terutama dipicu oleh potensi keluarnya dana jangka pendek (hot money) dari pasar saham dan obligasi pemerintah.
“Kalau untuk rupiah saya rasa capital outflow. Hot money-nya banyak yang keluar, baik di pasar saham maupun di pasar surat utang negara,” jelasnya.
Namun, ia menilai tekanan saat ini relatif lebih stabil dibanding lonjakan ketegangan pada akhir pekan lalu. Selama konflik tidak meningkat tajam, dampaknya diperkirakan masih terbatas.
Baca Juga: Lengkap! Ini Jadwal dan Sebaran 29 Ruas Tol yang Beri Diskon 30% Saat Lebaran 2026
Rupiah Diperkirakan Masih Terkendali
Myrdal memperkirakan rupiah masih berpeluang bertahan di bawah level Rp 16.999 per dolar AS jika konflik hanya berlangsung secara sporadis dan tidak meluas secara signifikan.
“Kalau perangnya hanya bersifat sporadis, capital outflow juga tidak akan besar. Seharusnya rupiah masih di bawah Rp 16.999 per dolar AS,” ujarnya.
Di sisi lain, arus dana asing yang masuk kemungkinan hanya terbatas pada instrumen tertentu seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), terutama jika imbal hasil (yield) yang ditawarkan cukup menarik.
“Kalau pun ada yang masuk paling dari lelang SRBI misalnya kalau yield-nya menarik, investor asing ada yang masuk. Paling hanya sebatas itu,” tambahnya.
Tonton: Iran Klaim Tahu Lokasi Netanyahu! IRGC Ancam Serangan Tanpa Henti
Emerging Market Paling Rentan
Secara umum, tingginya tensi geopolitik di Timur Tengah memberikan sentimen negatif bagi negara emerging market. Indonesia sebagai bagian dari kelompok tersebut relatif sensitif terhadap perubahan sentimen global.
Myrdal berharap eskalasi konflik tidak kembali meningkat seperti yang terjadi pada akhir pekan lalu agar dampaknya terhadap pasar keuangan global maupun domestik tetap terbatas dan tidak memicu gejolak yang lebih dalam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













