Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memproyeksikan perputaran uang selama periode Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri 2026 berpotensi menembus Rp 190 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun lalu yang sebesar Rp 160 triliun.
Momentum musiman tersebut dinilai mampu memperkuat konsumsi rumah tangga sekaligus menjadi katalis pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026.
Yusuf menjelaskan, Ramadhan dan Lebaran tahun ini menjadi fenomena strategis karena seluruh siklus konsumsi terkonsentrasi di awal tahun.
“Saya melihat momentum Ramadhan dan Lebaran 2026 sangat strategis karena seluruh siklus konsumsi, mulai dari pencairan THR, peningkatan belanja rumah tangga hingga arus mudik, terkonsentrasi di kuartal I sehingga menciptakan dorongan ekonomi yang lebih kuat dibandingkan pola historis biasa,” ujar Yusuf kepada Kontan, Kamis (19/2).
Baca Juga: Tarif Ekspor 19%: Benarkah Untungkan Produk RI?
THR Dua Gelombang Perpanjang Periode Belanja
Menurutnya, pencairan tunjangan hari raya (THR) dalam dua gelombang (aparatur sipil negara (ASN) pada Februari dan sektor swasta pada Maret) tidak hanya meningkatkan konsumsi secara instan, tetapi juga memperpanjang periode belanja masyarakat.
Kondisi ini menciptakan fenomena extended spending window, yakni periode konsumsi yang lebih panjang sehingga aliran likuiditas ke sektor ritel, distribusi, dan jasa menjadi lebih stabil.
Berdasarkan tren historis serta indikasi kesiapan uang kartal dari Bank Indonesia, Yusuf memproyeksikan perputaran uang Ramadhan-Lebaran 2026 meningkat sekitar 10% hingga 15% dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.
"Nilainya bisa mencapai kisaran Rp 175 triliun, bahkan bisa melampaui Rp 190 triliun," ungkapnya.
Baca Juga: Harga Cabai Naik Signifikan Jelang Ramadan, Ini Biang Keroknya Menurut Mendag
Dampak ke Transportasi, Pariwisata, dan Daerah
Peningkatan perputaran uang tidak hanya berasal dari konsumsi primer seperti makanan dan pakaian, tetapi juga dari lonjakan signifikan pada sektor transportasi, akomodasi, serta pariwisata daerah.
Arus mudik turut berperan sebagai mekanisme redistribusi ekonomi dari kota-kota besar ke daerah. Fenomena ini memicu efek pengganda (multiplier effect) terhadap aktivitas ekonomi lokal, khususnya UMKM dan sektor jasa.
Dari perspektif makroekonomi, dampak ini menjadi signifikan karena konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh struktur Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Ketika perputaran uang dalam skala ratusan triliun terjadi pada kuartal I, yang biasanya menjadi periode pertumbuhan relatif moderat, baseline pertumbuhan ekonomi berpotensi terdorong lebih tinggi.
“Saya memperkirakan momentum ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I secara tahunan ke kisaran 5,0% hingga 5,1%,” kata Yusuf.
Tonton: Perry Ungkap Peluang BI Rate Turun, Investor Wajib Siap-Siap!
Catatan Risiko: Stabilitas Inflasi Jadi Kunci
Meski prospeknya positif, efektivitas dorongan konsumsi sangat bergantung pada stabilitas inflasi, terutama harga pangan pokok.
Jika inflasi meningkat terlalu tinggi, daya beli riil masyarakat berpotensi tergerus sehingga multiplier effect terhadap ekonomi tidak optimal. Oleh karena itu, stabilitas harga menjadi faktor kunci agar momentum Ramadhan dan Lebaran benar-benar mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional di awal tahun.
Selanjutnya: Penjualan Mobil Bekas Melaju Jelang Lebaran
Menarik Dibaca: Jadwal imsakiyah Ramadhan 2026 Kota Gorontalo Lengkap: Cek Jadwal Salat 5 Waktu
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)