Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Sejumlah ekonom menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh level terendah sepanjang masa (all time low), nyaris Rp 17.000 per dolar AS, tidak akan berdampak signifikan terhadap defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD).
Pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026), rupiah kembali melemah. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terkoreksi tipis 0,01% ke posisi Rp 16.956 per dolar AS.
Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai meskipun rupiah telah mencapai level all time low, kondisi tersebut tidak secara langsung memperburuk kinerja transaksi berjalan Indonesia.
Menurut Myrdal, hingga tahun ini defisit transaksi berjalan Indonesia masih berada pada level yang relatif kecil, sekitar minus 0,35% terhadap produk domestik bruto (PDB). Dengan posisi tersebut, tekanan terhadap eksternal dinilai masih dalam batas aman.
Ia menegaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini bukan disebabkan oleh pelebaran defisit transaksi berjalan maupun tekanan arus keluar modal (capital outflow).
“Kalau dilihat ke CAD, defisitnya masih sedikit. Pelemahan rupiah bukan karena capital outflow atau pelebaran defisit transaksi berjalan,” ujar Myrdal kepada Kontan, Selasa (20/1/2026).
Myrdal menilai tekanan terhadap rupiah lebih disebabkan oleh adanya mismatch antara permintaan dan pasokan valuta asing (valas) di dalam negeri. Ketidakseimbangan ini terutama terjadi antara eksportir dan importir, serta antara eksportir dan korporasi yang memiliki kewajiban pembayaran utang luar negeri.
Baca Juga: Modal Asing Deras, Mengapa Rupiah Justru Melemah? Ini Penjelasan Menkeu Purbaya
Permintaan dolar AS di dalam negeri dinilai masih cukup tinggi, sementara pasokan valas dari eksportir relatif terbatas. Hal ini terjadi karena sebagian eksportir, khususnya dari sektor sumber daya alam nonmigas, belum sepenuhnya mengonversi 100% devisa hasil ekspor ke dalam negeri.
“Demand valasnya masih tetap, tetapi suplai valas di dalam negeri relatif kering. Bukan karena likuiditas dolar tidak ada, melainkan karena suplai valas dari eksportir tidak dikonversi penuh,” jelasnya.
Dari sisi risiko eksternal, Myrdal mengingatkan potensi tekanan global yang dapat memicu capital outflow. Meski demikian, dampaknya dinilai masih dapat dikelola selama fundamental ekonomi domestik tetap kuat.
“Kalau tekanan eksternal besar tentu ada risiko capital outflow. Tapi kalau fundamental domestik kuat, dampaknya akan lebih manageable,” ujarnya.
Dari sisi domestik, ia menekankan pentingnya kelancaran pelaksanaan program prioritas pemerintah, sinergi antar lembaga, serta kelancaran proses investasi. Selain itu, upaya debottlenecking serta stabilitas sosial dan politik juga berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar.
Senada, Kepala Ekonom David Sumual menilai prospek kinerja eksternal ke depan tidak sebaik kuartal IV 2025. Ia memproyeksikan penurunan net ekspor seiring berakhirnya fenomena front loading impor oleh Amerika Serikat.
Baca Juga: Puasa Ramadhan 2026: Tersisa 29 Hari, Cek Beda Pemerintah & Muhammadiyah!
“Proyeksinya tidak sebaik kuartal IV 2025, karena net ekspor menurun pasca front loading importir AS yang mengantisipasi kebijakan tarif Presiden Donald Trump,” ujar David.
Normalisasi pola impor Amerika Serikat tersebut berpotensi menekan kinerja ekspor negara-negara mitra dagang, termasuk Indonesia, sehingga perlu diantisipasi dalam menjaga keseimbangan eksternal dan stabilitas nilai tukar ke depan.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah di kisaran 2%–3% terhadap perekonomian nasional masih berdampak minimum dan dapat dikendalikan.
“Kalau importir ada kenaikan 2%–3%, masih bisa dikendalikan. Yang penting adalah pondasi ekonomi kita arahnya berlawanan dengan nilai tukar saat ini, karena fundamental ekonomi justru menguat,” ujar Purbaya.
Ia menambahkan, dengan fundamental ekonomi yang membaik dan kinerja pasar modal yang mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, pelemahan rupiah tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi domestik.
Tonton: Balas Trump Soal Greenland, UE Siapkan Tarif Balasan Rp 1,8 Kuadriliun
“Mungkin sebagian orang takut, tapi dari market kelihatan mereka percaya pondasi ekonomi kita baik. Bisa jadi ketika rupiah melemah justru investor masuk, karena berpotensi mendapatkan capital gain dan forex gain ketika rupiah kembali searah dengan fundamentalnya,” pungkas Purbaya.
Selanjutnya: Bantuan Sosial PKH dan BPNT Gagal Cair? Hindari 2 Kesalahan Input Fatal Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













