kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.010,87   12,58   1.26%
  • EMAS1.128.000 0,27%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%
AKTUAL /

Rusia Bakal Gelar Pemilu Maret 2024, Ini 4 Kandidat Presidennya


Senin, 12 Februari 2024 / 10:04 WIB
Rusia Bakal Gelar Pemilu Maret 2024, Ini 4 Kandidat Presidennya
ILUSTRASI. Pendaftaran kandidat untuk pemilihan presiden Rusia yang akan berlangsung bulan Maret mendatang telah ditutup. Sputnik/Alexey Nikolsky/Kremlin via REUTERS

Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - MOSKOW. Pendaftaran kandidat untuk pemilihan presiden Rusia yang akan berlangsung bulan Maret mendatang telah ditutup.  

Melansir Reuters yang mengutip TASS pada Minggu (11/2/2024), ada empat kandidat capres yang terdaftar. Selain Presiden Vladimir Putin, ada tiga politisi Rusia lain yang semuanya mendukung perang Moskow di Ukraina.

Daftar tersebut tidak memasukkan kandidat anti-perang Rusia Boris Nadezhdin setelah Komisi Pemilihan Umum Pusat (CEC) melarangnya pada hari Kamis untuk mencalonkan diri. Adapun alasannya adalah CEC menemukan kelemahan dalam pengumpulan tanda tangan yang diperlukan untuk mendukung pencalonannya.

CEC menerima pendaftaran dari Vladislav Davankov, wakil ketua Duma Rusia dan anggota kaukus Rakyat Baru; Leonid Slutsky, pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDPR) ultra-nasionalis yang setia pada Kremlin; dan Nikolai Kharitonov, kandidat dari Partai Komunis.

Putin, 71 tahun, yang memilih untuk mencalonkan diri sebagai calon independen dan bukan sebagai kandidat dari partai berkuasa Rusia Bersatu dan telah menjadi pemimpin tertinggi Rusia sejak tahun 2000, diperkirakan akan dengan mudah memenangkan pemilu bulan depan.

Baca Juga: Vladimir Putin Mengaku Tak Tertarik Menyerang Negara Lain

Meskipun tidak ada yang mengira Nadezhdin, 60 tahun, yang menganggap perang Putin di Ukraina sebagai sebuah "kesalahan fatal" - akan menang, kritik tajamnya telah mengejutkan beberapa analis. Kremlin mengatakan mereka tidak melihatnya sebagai saingan serius Putin.

Nadezhdin mengatakan pada hari Kamis bahwa dia akan menantang keputusan CEC di Mahkamah Agung Rusia.

Baca Juga: Putin dan Xi Kompak Tolak Aksi Campur Tangan AS ke Negara Lain

Perang, yang disebut Kremlin sebagai “operasi militer khusus”, mendekati akhir tahun kedua. Perang tersebut telah menewaskan ribuan orang di kedua belah pihak, membuat jutaan warga Ukraina mengungsi, dan mengubah sejumlah kota dan desa menjadi puing-puing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

×