kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.859.000   40.000   1,42%
  • USD/IDR 17.535   104,00   0,60%
  • IDX 6.859   -46,72   -0,68%
  • KOMPAS100 916   0,38   0,04%
  • LQ45 670   1,21   0,18%
  • ISSI 248   -2,34   -0,93%
  • IDX30 377   0,90   0,24%
  • IDXHIDIV20 461   -0,72   -0,16%
  • IDX80 104   0,22   0,22%
  • IDXV30 132   0,58   0,44%
  • IDXQ30 120   -0,91   -0,75%
AKTUAL /

Suku Bunga BI: Ekonom BCA Ungkap Skenario Kenaikan 50 Bps


Rabu, 13 Mei 2026 / 03:45 WIB
Suku Bunga BI: Ekonom BCA Ungkap Skenario Kenaikan 50 Bps
ILUSTRASI. Kepala Ekonom BCA memprediksi BI Rate bisa naik 50 bps jika inflasi melonjak. Konflik Timur Tengah picu harga minyak dunia. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Bank Indonesia (BI) dinilai masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) jika tekanan inflasi meningkat akibat lonjakan harga minyak dunia.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, hingga saat ini BI masih cenderung mempertahankan suku bunga acuannya. Namun, kebijakan moneter bisa berubah apabila kenaikan harga energi mulai mendorong inflasi domestik, terutama melalui penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM).

“Saat ini masih tetap. Tapi kalau inflasi naik misal akibat kenaikan harga BBM, BI Rate diproyeksikan naik,” ujar David kepada Kontan, Selasa (12/5/2026).

David menjelaskan, besaran kenaikan suku bunga akan bergantung pada seberapa besar dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi nasional.

Ia memperkirakan, apabila inflasi bergerak mendekati level 4%, maka BI berpotensi menaikkan BI Rate sekitar 50 basis poin (bps).

Potensi kenaikan inflasi tersebut dapat meningkat seiring lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Baca Juga: Purbaya Jamin Gaji Manajer Kopdes 2 Tahun Tak Bebani Negara, Indef Ingatkan Ini

Pada perdagangan Selasa (12/5/2026), harga minyak mentah Brent tercatat naik 86 sen atau 0,8% menjadi US$ 105,07 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 99 sen atau 1% ke level US$ 99,06 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi karena upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai masih jauh dari titik temu.

Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan energi global, sekaligus mendorong risiko kenaikan inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Sebagai negara yang masih berstatus net importer minyak, lonjakan harga minyak berpotensi menekan fiskal pemerintah, memperbesar tekanan terhadap rupiah, hingga memicu kenaikan harga energi domestik.

Tonton: BCA Masuk Bank Terbaik Dunia 2026, Forbes Soroti Kekuatan Perbankan RI

Tabel Relevan (Skenario Inflasi & Respons BI)

Skenario Inflasi dan Potensi Kenaikan BI Rate (Proyeksi BCA)

Kondisi Inflasi Pemicu Utama Respons BI Rate (Potensi)
Stabil (di bawah 4%) Harga BBM belum naik signifikan BI Rate cenderung tetap
Mendekati 4% Kenaikan BBM dorong inflasi BI Rate naik sekitar 50 bps

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

×