Reporter: Siti Masitoh | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di pasar: apakah Bank Indonesia (BI) perlu menaikkan suku bunga acuan untuk meredam gejolak tersebut?
Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo menilai, dalam waktu dekat Bank Indonesia masih akan menahan suku bunga acuan.
Menurutnya, fokus utama bank sentral saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar, baik lewat instrumen non-deliverable forward (NDF) maupun di pasar spot.
“Belum ada ruang penurunan suku bunga atau BI-Rate dalam waktu dekat, jadi kemungkinan masih akan ditahan,” ujar Banjaran kepada Kontan, Kamis (5/3/2026).
Banjaran juga menilai ruang untuk penurunan suku bunga acuan belum terbuka dalam jangka pendek. Ia memperkirakan evaluasi kebijakan moneter baru akan lebih jelas pada kuartal II 2026 mendatang dengan mempertimbangkan perkembangan global dan stabilitas rupiah.
Namun jika konflik geopolitik berlangsung lebih lama dan memicu lonjakan harga minyak yang lebih signifikan, ruang pemangkasan suku bunga akan semakin terbatas.
Di sisi lain, ia melihat potensi kenaikan suku bunga global masih terbuka seiring dampak lonjakan harga minyak yang dapat diikuti kenaikan komoditas utama lainnya. Dampak tersebut terutama akan terasa pada negara maju yang umumnya tidak memiliki program subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Baca Juga: Pasar Keuangan RI Terancam? Konflik Timur Tengah Picu Capital Outflow
Meski demikian, Banjaran menilai dampaknya bagi Indonesia tidak serta-merta langsung terasa. Hal ini karena Indonesia memiliki skema subsidi energi yang telah diperhitungkan dalam asumsi dasar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Untuk Indonesia, karena sudah masuk asumsi dasar APBN sebagai beban subsidi, transmisinya tidak langsung dan tingkat dampaknya bergantung pada seberapa besar tekanan yang bisa diserap,” jelasnya.
Sementara itu, nilai tukar rupiah di pasar spot menguat pada perdagangan Kamis (5/3/2026) pagi. Hingga pukul 09.12 WIB, rupiah berada di level Rp 16.882 per dolar Amerika Serikat (AS) atau menguat 0,06% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp 16.892 per dolar AS.
Di saat yang sama, harga minyak dunia juga melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis pagi. Pada pukul 07.33 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak April 2026 di New York Mercantile Exchange tercatat di US$ 75,75 per barel atau naik 1,46% dibandingkan posisi sehari sebelumnya di US$ 74,66 per barel.
Tonton: Seskab Teddy Umumkan THR ASN 2026 Sudah Cair, PNS Berkata Lain
Kenaikan harga minyak terjadi karena pelaku pasar mempertimbangkan dampak konflik yang semakin meluas antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













