kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45903,73   4,98   0.55%
  • EMAS1.318.000 -0,68%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%
AKTUAL /

Anemia Aplastik, Apakah Bisa Sembuh dan Berapa Lama Tingkat Kelangsungan Hidupnya?


Selasa, 09 April 2024 / 15:30 WIB
Anemia Aplastik, Apakah Bisa Sembuh dan Berapa Lama Tingkat Kelangsungan Hidupnya?
ILUSTRASI. Anemia Aplastik

Penulis: Virdita Ratriani

KONTAN.CO.ID - Anemia aplastik adalah kondisi yang diidap oleh Komika Priya Prayogha Pratama Tanjung alias Babe Cabita sebelum meninggal dunia pada Selasa (9/4/2024). 

Anemia aplastik adalah penyakit langka yang terjadi ketika sumsum tulang belakang berhenti memproduksi cukup sel darah baru. 

Kondisi ini membuat penderitanya mudah lelah dan lebih rentan terhadap infeksi dan pendarahan yang tidak terkontrol.

Anemia aplastik dapat berkembang pada usia berapa pun. Anemia aplastik bisa terjadi secara tiba-tiba, atau bisa juga terjadi secara perlahan dan memburuk seiring berjalannya waktu. 

Lantas, apa gejala dan penyebab anemia aplastik? 

Baca Juga: Berapa Jumlah Normal Trombosit dan Apa Penyebab Trombosit Turun?

Gejala anemia aplastik 

Gejala Anemia Aplastik

Anemia aplastik sebenarnya tidak memiliki gejala yang khas. Namun, dirangkum dari laman Mayo Clinic, berikut sejumlah gejala anemia aplastik: 

  • Mudah merasa kelelahan
  • Sesak napas
  • Detak jantung cepat atau tidak teratur
  • Kulit pucat
  • Infeksi yang sering atau berkepanjangan
  • Sering memar tanpa penyebab yang jelas 
  • Mimisan dan gusi berdarah
  • Pendarahan berkepanjangan setelah terluka
  • Ruam kulit
  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Demam

Anemia aplastik bisa bersifat jangka pendek, atau bisa menjadi kronis. Selain itu, anemua aplastik juga bisa menjadi parah dan bahkan berakibat fatal.

Baca Juga: Waspada Penyakit Anemia yang Sering Tak Disadari

Penyebab anemia aplastik 

Anemia aplastik disebabkan oleh kerusakan sel induk di sumsum tulang belakang. Padahal sel induk tersebut bertugas menghasilkan sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. 

Saat sel induk rusak, maka sumsum tulang belakang menjadi kosong atau istilahnya aplastik dan hanya mengandung sedikit sel darah (hipoplastik).

Penyebab kerusakan sel induk salah satunya adalah sistem kekebalan tubuh yang menyerang sel induk di sumsum tulang belakang. Kondisi ini sering disebut sebagai autoimun. 

Autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh seseorang menyerang sel-sel tubuhnya sendiri yang sehat.

Baca Juga: Bisa Cegah Komplikasi, Ini 8 Jenis Obat Asam Urat dan Efek Sampingnya

Selain itu, beberapa faktor lain penyebab anemia aplastik adalah: 

1. Perawatan menggunakan radiasi dan kemoterapi

Kemoterapi selain merusak sel kanker juga dapat merusak sel sehat, termasuk sel induk di sumsum tulang. Anemia aplastik dapat menjadi efek samping sementara dari pengobatan ini.

2. Paparan bahan kimia beracun

Bahan kimia beracun, seperti yang digunakan dalam pestisida dan insektisida, serta benzena, bahan dalam bensin, telah dikaitkan dengan anemia aplastik. 

Jenis anemia ini mungkin membaik jika penderitanya menghindari paparan berulang terhadap bahan kimia.

Baca Juga: Ini penyebab mimisan yang bisa dialami orang dewasa dan anak-anak

3. Penggunaan obat-obatan tertentu

Beberapa obat, seperti yang digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis dan beberapa antibiotik, dapat menyebabkan anemia aplastik. 

4. Gangguan autoimun

Gangguan autoimun adalah kondisi di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat termasuk sel induk di sumsum tulang belakang.

5. Infeksi virus

Infeksi virus yang mempengaruhi sumsum tulang dapat berperan dalam perkembangan anemia aplastik. 

Virus yang dikaitkan dengan anemia aplastik termasuk hepatitis, Epstein-Barr, cytomegalovirus, parvovirus B19 dan HIV.

6. Kehamilan

Selama masa kehamilan, sistem kekebalan tubuh bisa menyerang sumsum tulang belakang dan menyebabkan anemia aplastik. 

7. Faktor yang tidak diketahui

Dalam banyak kasus, dokter tidak dapat mengidentifikasi penyebab anemia aplastik (anemia aplastik idiopatik).

Baca Juga: Kenali Jenis-Jenis Anemia yang Perlu Anda ketahui

Pengobatan anemia aplastik 


Anemia Aplastik Bisa Sembuh Total?

Pengobatan anemia aplastik tergantung dengan kondisi penderitanya. Jika seseorang menderita anemia aplastik karena pengobatan kanker dan penyakit autoimun, maka dokter akan mengubah pengobatan penyakit tersebut untuk menangani anemia aplastik. 

Selain itu, beberapa pengobatan anemia aplastik yang lebih serius antara lain: 

1. Imunosupresan

Obat-obatan ini menghambat sistem kekebalan tubuh sehingga berhenti menyerang sel induk Anda. 

2. Transfusi darah

Transfusi darah dapat menggantikan sel darah merah dan trombosit. Transfusi tidak menyembuhkan anemia aplastik, namun dapat meringankan beberapa gejala.

Baca Juga: Bisa mengatasi anemia, inilah 4 buah penambah darah

3. Antibiotik

Anemia aplastik meningkatkan risiko infeksi bakteri, antibiotik membantu mengobati infeksi.

4. Transplantasi sel induk alogenik

Transfusi sel induk alogenik yakni mengganti sel induk yang rusak di sumsum tulang belakang dengan sel induk yang sehat dari darah atau sumsum tulang yang ditransplantasikan. 

Efek samping pengobatan

Efek samping berbeda berdasarkan pengobatan:

  • Penyakit graft-versus-host , komplikasi transplantasi sel induk alogenik.
  • Peningkatan risiko infeksi yang disebabkan oleh obat imunosupresan.
  • Kelebihan zat besi (hemokromatosis) akibat transfusi darah.

Baca Juga: Selain Kulit Pucat, Ini Tanda-Tanda Tubuh Kekurangan Darah

Apakah anemia aplastik bisa disembuhkan?

Anemia aplastik adalah kondisi yang mengancam jiwa dengan angka kematian yang sangat tinggi yakni sekitar 70% dalam waktu 1 tahun) jika tidak diobati. 

Tingkat kesembuhan anemia aplastik tergantung oleh kondisi penderitanya. Transplantasi sel induk alogenik berhasil menyembuhkan kondisi tersebut. 

Secara umum, anak-anak dan orang berusia 40 tahun ke bawah lebih mungkin mendapatkan pengobatan yang berhasil dibandingkan orang yang lebih tua.

Tingkat kelangsungan hidup lima tahun secara keseluruhan adalah sekitar 80% untuk pasien di bawah usia 20 tahun. Dalam beberapa tahun terakhir, hasil jangka panjang dari pasien anemia aplastik terus meningkat.

Baca Juga: Bisa dialami siapa saja, kenali penyebab mimisan ini

Pencegahan anemia aplastik

Tidak ada pencegahan untuk sebagian besar kasus anemia aplastik. Menghindari paparan insektisida, herbisida, pelarut organik, penghilang cat, dan bahan kimia beracun lainnya dapat menurunkan risiko terkena anemia aplastik. 

Demikian penjelasan mengenai anemia aplastik, pengobatan anemia aplastik, dan tingkat kelangsungan hidup anemia aplastik. 

Selanjutnya: Bank Neo Commerce Konsisten Pangkas Kerugian 3 tahun Terakhir, Berikut Target 2024

Menarik Dibaca: Pahami Kesehatan dan Nutrisi Tubuh Melalui Tes DNA NalaGenetics

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
EVolution Seminar Practical Business Acumen

×