kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.085.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.809   26,00   0,15%
  • IDX 8.235   0,22   0,00%
  • KOMPAS100 1.156   -1,44   -0,12%
  • LQ45 834   -3,53   -0,42%
  • ISSI 293   0,28   0,09%
  • IDX30 440   -3,60   -0,81%
  • IDXHIDIV20 527   -6,48   -1,22%
  • IDX80 129   -0,27   -0,21%
  • IDXV30 143   -1,25   -0,87%
  • IDXQ30 141   -1,73   -1,21%
AKTUAL /

Dampak Perang Iran-AS: Harga Pertamax Sudah Pasti Naik, Pertalite Menyusul?


Minggu, 01 Maret 2026 / 14:17 WIB
Dampak Perang Iran-AS: Harga Pertamax Sudah Pasti Naik, Pertalite Menyusul?

Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Perang antara Iran melawan Israel yang didukung Amerika Serikat (AS) berpotensi membuat harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia naik. 

Ekonom Universitas Gadjah mada (UGM) Fahmy Radhi, mengatakan serangan pertama dari Israel ke Iran sudah pasti membuat harga minyak dunia naik. 

“Kalau serangannya ke Iran, itu pasti akan mempengaruhi harga minyak secara signifikan,” kata Fahmy saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (28/2/2026) petang. 

Fahmy menjelaskan, Iran masuk dalam 10 negara penghasil minyak terbanyak di dunia. 

Negara tersebut juga berada di Selat Hormuz, perairan yang menjadi lalu lintas perdagangan minyak dunia. 

Jika Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Timur Tengah dan memblokir Selat Hormuz, maka harga minyak bisa tembus US$ 70-80 per barrel. Adapun harga minyak mentah pada WTI saat ini tercatat di angka US$ 67,02 per barrel. 

Kondisi serupa sudah pernah terjadi dalam peperangan tahun lalu, saat Iran berhasil menembus pertahanan Israel dan pangkalan militer AS di kawasan. 

“Barangkali bisa di atas 70 (dollar AS per barrel) atau bahkan sampai 80 (dollar AS per barrel) gitu,” ujarnya. 

Fahmy bahkan memprediksi, harga minyak dunia bisa tembus US$ 100 per barrel jika Rusia, China, dan Korea Utara terlibat peperangan. 

Baca Juga: Ini Kejanggalan dari Impor 105.000 Unit Pikap dari India Menurut Ekonom

“Kondisi semacam itu saya prediksikan kemungkinan harga minyak bisa mencapai di atas US$ 100 per barrel,” kata dia.  

Dampak ke Indonesia, Harga Pertamax Bisa Naik 

Perang Iran melawan Israel juga akan berdampak terhadap Indonesia. Fahmy menjelaskan, Indonesia merupakan importir 1,2 juta barel BBM per hari. 

Jenis BBM yang sudah pasti terdampak kenaikan harga minyak global adalah Pertamax dan bahan bakar lain di atasnya. Sebab, harga BBM jenis tersebut diserahkan kepada fluktuasi harga minyak global. 

“Pertamax pasti naik. Misalnya sekarang saja 67 (dollar AS per barrel) gitu ya, itu sesuai mekanisme pasar Pertamax ke atas naik, baik di SPBU Pertamina apalagi SPBU dari asing,” tambahnya. 

Sementara itu, harga BBM jenis Pertalite dan Solar ditetapkan oleh pemerintah.  

Meski harga minyak dunia naik, harga Pertalite dan Solar di SPBU Pertamina tidak naik karena ditopang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

Baca Juga: Unggas Indonesia Diklaim Halal, Kenapa Arab Saudi Tetap Melarang?

“Kecuali pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM subsidi Pertalite dan Solar, itu baru akan menimpa pada konsumen,” tutur Fahmy. 

Meski dijaga dengan mekanisme subsidi, Pertalite dan Solar bukan berarti tidak berpotensi naik. Fahmy menjelaskan, kenaikan harga minyak dunia yang tidak diikuti kenaikan Pertalite dan Solar di tingkat konsumen menambah beban APBN, mengingat subsidi yang disalurkan pemerintah. 

Namun, pemerintah tidak akan sanggup lagi menahan subsidi BBM saat ini jika harga minyak dunia tembus US$ 100 per barel. 

“Kalau sudah di atas 100 (dollar AS per barel) saya kira APBN sudah tidak mampu lagi, maka pada saat itu pemerintah harus menaikkan,” kata Fahmy. 

“Meskipun tidak proporsional dengan kenaikan harga minyak dunia, tetapi perlu ada kenaikan agar beban tadi itu tidak terlalu berat,” tambahnya. 

Tonton: Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei Menjadi Martir Serangan AS Israel

Kronologi Perang Iran Vs Israel 

Diketahui, Israel memulai penyerangan ke Ibu Kota Iran, Teheran pada Sabtu (28/2/2026) waktu Indonesia. Serangan dilakukan di tengah proses perundingan negosiasi nuklir antara Iran dengan AS. 

Tidak berselang lama, Iran melancarkan serangan balasan dengan menembakkan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Bahrain. Kondisi tersebut memicu situasi kawasan yang semakin panas. 

Adapun AS terus menuntut Iran untuk menghentikan proyek nuklir. AS tidak terima pengayaan uranium Iran yang telah mencapai 60%.

Artikel ini sudah tayang di Tribunnews.com berjudul "Imbas Perang Israel-Iran, Harga Pertamax Cs Bakal Makin Mahal"

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait


TERBARU

×