kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.866   -34,00   -0,20%
  • IDX 8.013   77,56   0,98%
  • KOMPAS100 1.130   13,49   1,21%
  • LQ45 819   3,46   0,42%
  • ISSI 283   5,25   1,89%
  • IDX30 426   0,20   0,05%
  • IDXHIDIV20 512   -2,67   -0,52%
  • IDX80 126   1,21   0,97%
  • IDXV30 139   0,23   0,16%
  • IDXQ30 139   -0,40   -0,29%
AKTUAL /

Ekonomi Indonesia: Angka Pengangguran Turun, Tapi Ada Apa Sebenarnya?


Senin, 09 Februari 2026 / 03:30 WIB
Ekonomi Indonesia: Angka Pengangguran Turun, Tapi Ada Apa Sebenarnya?
ILUSTRASI. Meskipun jumlah pengangguran turun, ahli ekonomi ungkap kondisi pasar kerja RI belum pulih. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 7,35 juta orang pada November 2025. Angka tersebut turun sekitar 109.000 orang dibandingkan posisi Agustus 2025.

Meski demikian, penurunan pengangguran ini dinilai belum cukup kuat untuk menyimpulkan adanya pemulihan ekonomi di pasar tenaga kerja. Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai perbaikan tersebut masih berskala terbatas.

“Angkanya memang membaik, tapi skalanya masih terbatas dan sangat sensitif terhadap gejolak ekonomi global maupun domestik,” kata Yusuf kepada Kontan.co.id, Minggu (8/2/2026).

Ia menilai kondisi riil dunia usaha hingga kini belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Walaupun terdapat peningkatan jumlah pekerja formal, lebih dari separuh tenaga kerja Indonesia masih berada di sektor informal yang rentan terhadap guncangan ekonomi.

Selain itu, besaran upah pekerja juga cenderung stagnan di kisaran Rp3,3 juta per bulan. Yusuf mencatat banyak lapangan kerja baru yang tercipta masih bersifat belum stabil, sementara pelaku usaha cenderung berhati-hati dalam melakukan ekspansi.

Baca Juga: Kejutan Lebaran 2026: Tiket Pesawat Ekonomi PPN Ditanggung 100%

“Artinya, penciptaan kerja lebih bersifat kuantitatif, belum diikuti penguatan produktivitas dan kepastian kerja,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda. Ia menilai penurunan angka pengangguran tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil di lapangan, terutama jika dikaitkan dengan fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Padahal, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) sebelumnya mencatat lonjakan PHK sebesar 13,5% sepanjang tahun 2025.

Dari sisi kesejahteraan tenaga kerja, Huda menyoroti nilai median upah pekerja Indonesia yang hanya mencapai Rp2.500.000 per bulan. Sementara itu, pemerintah menetapkan garis kemiskinan sebesar Rp3.053.269 per keluarga per bulan.

“Dengan kondisi ini, sebenarnya gaji buruh atau karyawan Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan. Jadi saya rasa kondisi ketenagakerjaan kita masih belum bisa dikatakan sejahtera,” ungkap Huda.

Baca Juga: Peringkat Utang Indonesia: Moody's Belum Paham Konsep Danantara?

Sebelumnya, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan bahwa jumlah pengangguran 7,35 juta orang tersebut setara dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) sebesar 4,74% pada November 2025.

Jika dibandingkan dengan Agustus 2025, TPT pada November 2025 tercatat turun sekitar 0,11 basis poin.

BPS juga mencatat jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 155,27 juta orang pada November 2025, bertambah 1,26 juta orang dibandingkan Agustus 2025. Sementara jumlah penduduk bekerja meningkat 1,37 juta orang menjadi 147,91 juta orang.

Tonton: Purbaya Bantah Ketua OJK Akan Ditunjuk Langsung, Tetap Ada Panitia Seleksi

Selanjutnya: Mudik Lebaran 2026: Jangan Sampai Ketinggalan Diskon Tol Ini!

Menarik Dibaca: Jadwal KRL Jogja-Solo untuk 9-13 Februari 2026, Jangan Lupa Catat Waktunya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag

TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

×