Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Prospek arus modal asing ke Indonesia pada 2026 diperkirakan masih akan bergerak dinamis seiring proses evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, sentimen tersebut berpotensi membuat investor global mengambil sikap lebih berhati-hati, khususnya di pasar saham dan obligasi.
Dalam jangka pendek, ketidakpastian pasca evaluasi MSCI cenderung menahan minat investor asing hingga terdapat kejelasan langkah perbaikan dari otoritas. Peninjauan ulang MSCI yang dijadwalkan berlangsung hingga Mei 2026 menjadi titik krusial bagi persepsi pasar terhadap daya tarik Indonesia di mata investor global.
Josua memperingatkan, apabila perbaikan struktural yang diharapkan tidak memadai, Indonesia berisiko mengalami penurunan porsi dalam indeks pasar berkembang. Bahkan, dalam skenario ekstrem, peluang penurunan kelas ke frontier market tidak dapat sepenuhnya diabaikan. Kondisi tersebut berpotensi menahan aliran dana investor berbasis indeks dan meningkatkan risiko arus keluar.
Ia mengutip perkiraan Goldman Sachs yang menyebut potensi arus keluar gabungan dapat melampaui US$ 13 miliar jika skenario penurunan kelas benar-benar terjadi. Beban sentimen ini dinilai dapat menekan kinerja pasar keuangan domestik dalam beberapa waktu ke depan.
Baca Juga: Wajib Pajak Wajib Tahu: AR Kini Jadi Pemeriksa, Apa Dampaknya?
Di pasar obligasi, ketahanan dinilai relatif lebih baik berkat dominasi basis investor domestik. Meski demikian, pasar surat utang tetap tidak sepenuhnya kebal. Apabila tekanan di pasar saham memicu suasana risk-off, investor asing berpeluang mengurangi eksposur atau menuntut imbal hasil yang lebih tinggi.
Namun, peluang arus dana asing ke obligasi masih terbuka selama imbal hasil tetap kompetitif dan stabilitas nilai tukar terjaga. Josua mencontohkan, pada 26 Januari lalu tercatat pembelian bersih obligasi oleh investor global, dengan imbal hasil surat utang negara tenor 10 tahun yang relatif stabil.
Sementara itu, dampak evaluasi MSCI terhadap investasi asing langsung (FDI) dinilai tidak secepat dan sedrastis pasar saham. Keputusan FDI lebih ditentukan oleh prospek permintaan, efisiensi biaya produksi, kepastian perizinan, serta konsistensi kebijakan jangka panjang.
Meski demikian, pengaruh tidak langsung tetap perlu dicermati. Isu keterbukaan kepemilikan, kualitas tata kelola, serta kepastian regulasi berpotensi membuat sebagian investor strategis menunda realisasi investasi hingga risiko kebijakan dinilai menurun. Kekhawatiran ini dapat membesar jika dibarengi isu lain, seperti meningkatnya risiko regulasi terkait wacana pengelolaan perusahaan yang izinnya dicabut oleh Danantara.
Baca Juga: Investor Wajib Tahu: Rupiah Akan Menguat, Ini Kata Bos Bank Indonesia
Bagi investor strategis, kepastian aturan main, perlindungan hukum, dan transparansi informasi menjadi faktor kunci. Dampaknya lebih berupa penundaan dan pengetatan persyaratan investasi, bukan pembatalan secara massal.
Adapun pergerakan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek sangat dipengaruhi arus modal portofolio dan dinamika global. Meski sempat menguat ke level Rp 16.706 per dolar AS akibat pelemahan dolar global, hasil evaluasi MSCI tetap menambah lapisan risiko bagi mata uang domestik.
Jika tekanan jual asing di pasar saham berlanjut dan kekhawatiran penurunan kelas membesar, rupiah berpotensi kembali tertekan seiring meningkatnya permintaan dolar AS. Risiko ini dapat meningkat apabila dibarengi kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan arah suku bunga domestik.
Tonton: OJK Bongkar Dugaan Pencatatan Palsu Fintech Crowde
Dalam skenario tekanan berlanjut, Josua memperkirakan rupiah berpotensi melemah hingga akhir kuartal I. Sebaliknya, respons otoritas yang cepat dan kredibel, ditopang kondisi global yang kondusif seperti pelemahan dolar serta berlanjutnya arus dana ke obligasi, dinilai dapat menjaga stabilitas rupiah dan membuka ruang penguatan.
Meski demikian, volatilitas rupiah diperkirakan masih akan bertahan hingga terdapat kejelasan konkret menjelang peninjauan MSCI berikutnya.
Selanjutnya: Memahami Dampak Interim Freeze MSCI
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













