kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.315.000 0,38%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%
AKTUAL /

Apakah Epilepsi Bisa Sembuh? Ini Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya


Senin, 25 Maret 2024 / 10:47 WIB
Apakah Epilepsi Bisa Sembuh? Ini Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya
ILUSTRASI. Apakah Epilepsi Bisa Sembuh?

Penulis: Virdita Ratriani

KONTAN.CO.ID - Epilepsi seringkali disebut sebagai penyakit ayan. Epilepsi adalah gangguan sistem saraf pusat (neurologis) di mana aktivitas otak menjadi tidak normal. Lalu, apakah epilepsi bisa sembuh? 

Hal ini dapat menyebabkan kejang atau periode perilaku yang tidak biasa, dan terkadang kehilangan kesadaran.

Dikutip dari Mayo Clinic, epilepsi dapat menyerang pria dan wanita dari semua ras, latar belakang etnis, dan usia.

Lantas, apakah epilepsi bisa sembuh? 

Baca Juga: 20 Twibbon Hari Epilepsi Sedunia 2024 yang Bisa Diunggah di Medsos, Yuk Ramaikan!

Gejala epilepsi

Epilepsi disebabkan oleh aktivitas abnormal di otak. Gejala epilepsi yang paling umum adalah kejang. 

Kejang dapat memengaruhi proses apa pun yang dikoordinasikan oleh otak dan ini bisa sangat bervariasi. Beberapa penderita epilepsi hanya menatap kosong selama beberapa detik selama kejang, sementara yang lain berulang kali menggerakkan lengan atau kaki mereka. 

Meski demikian, mengalami kejang bukan berarti selalu dikaitkan dengan epilepsi. Kejang yang menjadi gejala epilepsi adalah terjadi berulangkali.

Baca Juga: Mengenal Apa itu Acne Vulgaris, Gejala hingga Penyebabnya

Beberapa tanda dan gejala epilepsi yang termasuk dalam kejang antara lain: 

  • Kebingungan sementara
  • Tatapan mata kosong
  • Gerakan menyentak tak terkendali pada lengan dan kaki
  • Kehilangan kesadaran
  • Gejala psikis seperti ketakutan, kecemasan atau deja vu

Gejala epilepsi bervariasi tergantung pada jenis kejang. Pada kebanyakan kasus, penderita epilepsi akan cenderung mengalami jenis kejang yang sama setiap saat, sehingga gejalanya akan serupa dari episode ke episode.

Baca Juga: Penderita 10 Penyakit ini Dilarang Minum Kopi

Penyebab epilepsi

Penyebab epilepsi secara jelas hanya dapat diketahui pada sebagian kecil kasus. Namun, untuk penyebab kejang pada epilepsi biasanya melibatkan beberapa cedera pada otak.

Berikut adalah beberapa penyebab utama epilepsi meliputi:

  • Oksigen yang rendah selama kelahiran
  • Cedera kepala yang terjadi saat lahir atau karena kecelakaan selama masa muda atau dewasa
  • Tumor otak
  • Kondisi genetik yang mengakibatkan cedera otak, seperti tuberous sclerosis
  • Infeksi seperti meningitis atau ensefalitis
  • Stroke atau jenis kerusakan otak lainnya
  • Kadar zat yang tidak normal seperti natrium atau gula darah
  • Gangguan perkembangan, seperti autisme dan neurofibromatosis
  • Cedera sebelum lahir, seperti kerusakan otak akibat infeksi pada ibu, gizi buruk atau kekurangan oksigen

Hingga 70% dari semua kasus epilepsi pada orang dewasa dan anak-anak, tidak ada penyebab pasti yang dapat ditemukan.

Baca Juga: Bahaya, Penyebab, beserta Cara Mengatasi Hipersomnia atau Kebanyakan Tidur

​Apakah epilepsi menular? 

Epilepsi bukan penyakit menular. Pasalnya, penyebab epilepsi adalah pelepasan listrik berlebihan secara tiba-tiba dari korteks serebral atau melalui korteks kelompok neuron, sehingga menyebabkan disfungsi sistem saraf pusat. 

Sejauh ini, belum ditemukan cara yang menyebabkan epilepsi menular dari orang ke orang.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga mengatakan epilepsi adalah penyakit tidak menular kronis. Jadi, tidak perlu khawatir saat berinteraksi dengan penderita epilepsi. 

Baca Juga: Apakah Epilepsi Penyakit Keturunan dan Bisa Disembuhkan? Ini Gejala dan Pengobatannya

Apakah epilepsi bisa sembuh? 

Selain itu, ada banyak pertanyaan mengenai apakah epilepsi bisa sembuh. Jawabannya, epilepsi bisa disembuhkan dengan pengobatan dan penanganan yang tepat. 

Dengan pemberian obat yang sesuai, penyakit epilepsi dapat terkontrol dan bahkan bisa sembuh sempurna tanpa harus minum obat lagi. 

Namun, pasien harus ditangani oleh dokter yang tepat, bukan asal sembarang minum obat herbal atau mengambil langkah pengobatan alternatif yang tidak tepat. 

Baca Juga: Kenali Penyebab Jerawat Punggung yang Jarang Diketahui

Hanya saja, prosedur penyembuhannya memang memerlukan waktu yang tidak sebentar. Penderita epilepsi akan mendapatkan obat rutin berupa Obat Anti Epilepsi (OAE) yang harus diminum setiap hari. 

Pemberian OAE harus rutin, yang boleh mengatur dosis dan menghentikan pemberian obat hanya dokter spesialis saraf. 

Penghentian Obat Anti Epilepsi (OAE) secara bertahap dapat dipertimbangkan setelah 3-5 tahun bebas kejang. OAE dapat dihentikan tanpa kekambuhan pada 60% pasien.

Dalam hal penghentian OAE, maka ada dua hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu syarat umum untuk menghentikan OAE dan kemungkinan kambuhnya bangkitan atau kejang setelah OAE dihentikan. 

Baca Juga: Cara Tepat Mengatasi Step saat Anak Demam dan Penyebabnya

Menurut pedoman tatalaksana epilepsi yang dibuat oleh PERDOSSI, syarat umum untuk menghentikan pemberian OAE adalah sebagai berikut :

Setelah minimal tiga tahun bebas kejang dan gambaran EEG normal.

  • Penghentian OAE disetujui oleh pasien dan keluarganya.
  • Harus dilakukan secara bertahap, 25 % dari dosis semula setiap bulan dalam jangka waktu 3-6 bulan.
  • Bila digunakan lebih dari 1 (satu) OAE, maka penghentian dimulai dari OAE yang bukan utama.

Demikian penjelasan mengenai arti epilepsi, apakah epilepsi menular, dan apakah epilepsi bisa sembuh. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

×